Love and Acceptance (Chapter 3)

0
223
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pagi ini aku terbangun oleh suara seseorang dan perasaan sepi, karena Krisan tidak lagi tidur di sampingku. Aku berusaha mendengarkan dengan seksama. Ternyata itu suara Krisan. Sedang bicara dengan siapa dia? Belum terjawab pertanyaanku, Krisan masuk ke dalam kamar.

“Al, gue harus buru-buru cabut. Client gue minta meeting dadakan buat event minggu depan.”

“Hah? Buru-buru amat. Kenapa lo nggak bilang dari kemarin kalau ada meeting hari ini?” Suaraku meninggi. Aku yakin ia bisa mendengar kekecewaan di suaraku. Aku memang tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

“Memang harusnya hari ini gue nggak ke mana-mana kok, Al. Gue mendingan ngabisin waktu sama lo di sini deh. Gue udah minta reschedule, tapi client gue cuma bisa hari ini.”

Aku hanya bisa menatap Krisan berganti baju dan bersiap-siap. Aku tidak bisa menahannya, karena seperti aku, Krisan juga sangat mencintai pekerjaannya.

“Gue pinjem mobil lo ya, Al. Kelar meeting gue langsung balik ke sini kok.”

“Iya, kuncinya ada di tempat biasa. Jangan lupa isiin bensin. Hati-hati ya, San.”

Aku tidak mendengar jawaban dari Krisan. Yang kudengar hanya suara pintu ditutup dan disusul suara mobil melaju. Aku meraih kaos yang dipakai oleh Krisan semalam, memeluknya, dan kembali tidur sambil menunggu Krisan pulang.

Belum lelap aku tertidur, handphone-ku berbunyi. Ada pesan masuk dari Trisha.

“Hey, Al. Hari ini ada acara nggak?”

“Halo, Sha. Hari ini aku nggak ada acara. Ada apa, Sha?”

Trisha ini adalah perempuan yang sedang dekat denganku. Memang hubungan kami baru sampai tahap pedekate. Aku pun belum yakin dengan perasaanku kepada Trisha. Aku belum pernah pacaran dengan perempuan sebelumnya, dan Krisan adalah perempuan pertama yang kucintai.

“Mau keluar makan siang nggak? Atau ngopi gitu?”

Hmm, tawaran yang menarik. Toh Krisan juga meeting entah sampai jam berapa. Aku sebenarnya ingin membuka hati untuk orang lain. Aku juga ingin bisa memiliki hubungan yang bersifat reciprocate.

Mungkin aku harus memberi kesempatan kepada orang lain, pikirku.

“Boleh. Mau ketemu di mana, Sha?”

“Hmm, kalau aku jemput kamu boleh, Al?”

“Wah, pas banget. Boleh, mobilku lagi dipake temen nih. Nggak tau kapan baliknya,” aku terkekeh.

“Okay kalo gitu. I’ll be there in an hour?”

“Okay, aku siap-siap dulu ya. See you soon.

Menghabiskan waktu bersama Trisha ternyata membuatku lupa sejenak akan Krisan. Trisha yang tahu aku belum pernah menjalin hubungan dengan perempuan sama sekali benar-benar memberikan aku ruang untuk berpikir dan menetapkan hati. Satu yang Trisha tidak tahu, bahwa saat ini hatiku masih berada di orang lain dan aku harus menyelesaikan terlebih dahulu perasaanku sebelum memberikan kesempatan kepada Trisha.

Ternyata aku dan Trisha memiliki banyak kesamaan. Topik demi topik obrolan keluar begitu saja tanpa harus dipikirkan. Seperti tak ada habisnya. Di tengah obrolanku dengan Trisha, handphone-ku berbunyi. Krisan. Aku permisi kepada Trisha untuk menjawab telepon.

“Halo, Al. Gue udah kelar nih. Mau balik. Lo mau gue bawain apa?” Aku melihat jam di tanganku. Sudah pukul 18.00 rupanya. Aku belum mau pulang. Aku masih menikmati obrolanku dengan Trisha.

“Gue lagi di luar, San. Lo balik aja, kunci rumah gue taruh di tempat biasa.”

“Lo lagi di mana? Sendirian? Kan mobil lo gue pake.”

“Di Gancit, sama temen gue. Tadi dia jemput gue.”

“Temen lo? Cewek apa cowok?” Aku cukup terkejut dengan pertanyaan dari Krisan. Tidak biasanya ia bertanya sedetail itu.

“Iiih, mau tau aja deh looo.” Aku terbahak.

“Ya udah, gue susulin ke Gancit sekarang ya. Bye.” Lagi-lagi aku terkejut. Krisan langsung mematikan teleponnya. Ada apa sih? Sebersit dugaan terlintas di benakku, tapi langsung buru-buru kutepis. Mungkinkah Krisan cemburu?

Aku kembali menghampiri Trisha yang sedang membuka handphone-nya. “Sorry ya, tadi temenku yang minjem mobil telepon. Kayaknya dia bakal nyusulin kita. Nggak apa-apa kan?”

“Oh iya, nggak apa-apa kok, Al. The more the merrier.”

Trisha mencoba bercanda, tetapi tampak sedikit kekecewaan di matanya. Aku tahu, karena aku pun juga merasakan itu. Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua Trisha, tapi aku tidak mungkin berkata tidak kepada Krisan.

Tidak sampai setengah jam, Krisan sudah sampai di café tempat aku dan Trisha ngobrol.

“Haiii, sori ya lama. Agak macet tadi. Oh iya, gue Krisan.”

“Trisha,” jawab Trisha sambil mengulurkan tangan.

Aku kebingungan dengan pernyataan Krisan. “Sori ya lama?” Aku tidak pernah memintanya ke sini, tapi kenapa ia berkata seperti itu? Jangan sampai Trisha berpikir kalau Krisan ke sini adalah ideku. Ah, sudahlah. Aku jelaskan saja nanti.

“Kalian dari jam berapa di sini?” tanya Krisan membuka obrolan.

“Jam duaan.” Trisha menjawab dengan senyum di wajahnya.

Senyuman yang manis. Eh, ke mana saja aku selama ini? Tiga kali aku pergi bersamanya, kenapa baru sekarang aku sadar kalau Trisha memiliki senyum yang manis? Duh, apa-apaan ini? Apa aku sudah mulai menyukai Trisha?

“Iya, gue sahabatan sama Alya udah dari kuliah. Kita kost bareng waktu kuliah dan sekarang kerja bareng.”

Entah apa yang mereka bicarakan sebelum ini. Aku terlalu fokus menatap senyum Trisha. Aku merasakan tangan Krisan merangkul bahuku dan kepalanya ia letakkan di pundakku.

“Ih, apaan sih lo, San? Jangan nyender-nyender ah. Berat, tau.” Aku mendorong Krisan sambil bercanda dan disambut dengan muka cemberutnya.

Ah, wajah itu. Kenapa kamu bisa semenggemaskan ini? Anehnya, kenapa tiba-tiba Krisan menjadi sangat touchy di depan orang yang baru ia kenal? Bukan seperti Krisan biasanya, yang cenderung jaim bila bersama orang yang baru ia kenal.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Aku dan Krisan berpamitan pulang kepada Trisha. Batinku beradu. Aku harus pulang dengan Krisan atau Trisha? Aku memutuskan untuk pulang bersama Krisan, karena jika pulang dengan Trisha, pasti akan menimbulkan pertanyaan dari Krisan.

“Lo kenal di mana sama Trisha, Al?” tanya Krisan sesampainya di mobil.

“Teman kerja,” jawabku sekenanya.

Aku tidak mau Krisan berpikir macam-macam. Meskipun aku sangat mencintai Krisan dan berharap bisa menggantikan posisi Ardi, tapi aku masih menyimpan rapat-rapat rahasia, bahwa aku adalah seorang lesbian. Biar bagaimanapun juga aku masih harus memastikan jika aku memang benar-benar lesbian. Selama ini aku masih denial, tapi dengan kehadiran Trisha yang berusaha membuatku membuka hati, perlahan aku mulai menerima diriku yang sesungguhnya.

Krisan tidak perlu tahu tentang hal itu. Aku pernah sangat marah saat mengetahui hubungannya dengan bosku dan aku takut hal itu akan merubah apa yang kami punya selama ini.

Perjalanan menuju rumahku terasa lebih lama dari biasanya. Aku dan Krisan juga tidak saling bicara. Tidak seperti biasanya. Aku merasakan ada yang aneh dari Krisan, tapi aku belum tau apa itu.

“Tadi habis meeting gue ketemu Ardi.”

“Oh ya? Terus?” Aku berusaha bersikap sesantai mungkin, berharap topik yang paling aku hindari tidak akan keluar dari mulutnya.

“Ya nggak terus terus. Kita makan siang lalu gue nyamperin lo.”

Aku menarik napas lega, tetapi segera menyesalinya dan berharap Krisan tidak menyadarinya. Ini adalah perjalanan terlama untuk sampai rumah yang pernah kujalani.

 

-gitastic

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.