Antara Harapan dan Kenyataan

0
326
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Seringkali aku melihat orang-orang berengsek yang selalu beruntung. Entahlah mengapa hidup bisa selucu ini. Aku pernah berpikir kenapa tak memilih jadi orang berengsek saja jika memang itu lebih menyenangkan? Sayangnya itu cuma ada di benakku saja. Sungguh aku tak pernah ingin dan tak pernah punya rencana untuk menjadi orang berengsek.

Kenapa aku bisa bilang hidup ini lucu? Karena banyak sekali kenyataan hidup yang perlu ditertawakan. Ada sebagian orang yang bisa mencintai dengan segenap jiwa dan raga, tetapi ditinggalkan begitu saja. Ada pula yang hanya sekedar ingin mencicipi manisnya hubungan tetapi dibalas dengan cinta yang teramat tulus dan mendalam.

Kenapa kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan? Sebab kau tak pernah bisa menuntut kehidupan ini untuk selalu bisa berlaku adil pada dirimu. Kehidupan ini memang tidak pernah bisa dimengerti. Aku yakin setiap orang mendapatkan porsi kebahagiaan dan kesedihan yang berbeda, sebab Tuhan Maha Mengetahui, kepada siapa terlebih dahulu kebahagiaan itu harus disematkan. Kau tak pernah tahu seberapa besar usaha orang yang mati-matian mempertahankan sesuatu. Bahkan mungkin saja apa yang dipertahankannya hanya kau anggap sesuatu yang tak bernilai besar.

Beberapa orang juga harus bisa menerima kenyataan bahwa ia harus menikah dengan orang yang tak ia cintai. Mungkin ia terlalu baik atau terlalu lemah pada satu hal yang disebut sebagai ‘demi kebahagiaan orangtua’. Hidupnya dipertaruhkan demi kebahagiaan yang entah dia sendiri tidak pernah tahu artinya. Padahal, ia sudah menemukan pendamping hidupnya. Sosok perempuan yang amat dicintai pun harus ditinggalkan. Ia terpaksa harus menikahi pria yang menjadi pilihan orangtuanya.

Sebagian lainnya harus rela ditinggalkan oleh seseorang yang amat dicintainya. Bukan dengan alasan yang bisa diterima akal sehat, melainkan alasan-alasan klise yang sengaja dibuat karena sudah merasa bosan dengan pasangan. Mungkin memang semudah itu baginya. Namun bagaimana dengan orang yang ditinggalkan? Mungkin dia harus bersusah payah untuk bangkit, mencoba bertahan hidup, atau mungkin menciptakan kebahagiaannya sendiri saat sosok yang menjadi sumber kebahagiaannya pergi.

Hidup memang selucu ini.

Ada sebagian orang yang marah pada diri sendiri. Menganggap dirinya payah dan tidak berguna, sebab upaya apapun telah dilakukan demi mempertahankan hubungan idaman yang dia mimpikan sejak lama. Ada pula yang meyakini bahwa ‘langgeng’ itu ada. Beberapa orang juga mempunya mimpi yang amat besar pada hubungan yang sedang dijalankan. Namun kenyataan sering berkata lain. Terima saja apa yang memang sudah ditakdirkan untuk kehidupan kita.

Kita akan selalu ‘dicambuk’ oleh kenyataan, suka ataupun tidak. Berharap tidak pernah salah, selagi harapanmu itu masih dalam batas kewarasan. Ketidakwarasan ini cukup memasuki relung batin saja, atau disimpan di dalam benak. Aku tak ada niatan menyakiti siapapun dengan ketidakwarasan yang ada di dalam diri ini. Sesekali ia muncul, bahkan memberontak sangat keras, dan seringkali ia ingin keluar.

Aku bisa saja menjadi berengsek dan tidak waras, tapi aku tak mau. Aku mau mencintai siapa pun dengan penuh kewarasan dan kesetiaan. Barangkali yang masih menjadi brengsek di luar sana belum tahu rasanya dikoyak kesedihan mendalam saat ditinggalkan seseorang yang teramat ia cintai. Ia belum merasakan ‘patah’ yang benar-benar patah. Ia belum merasakan ‘sesak’ yang benar-benar sesak.

Pilihan ada di tanganmu, mau menjadi berengsek atau tidak. Menjadi berengsek atau tidak, kehidupan ini akan tetap memberikan kebahagiaan dan kesedihan yang tak pernah kita ketahui porsinya. Teruntuk yang baik dan setia di luar sana, tetaplah seperti itu, tetaplah menjadi baik dan bermakna bagi setiap orang yang ada di hidupmu. Sebab bagiku bahagia itu tidak pernah ada tolak ukurnya, setiap orang punya definisi bahagianya masing-masing.

Ketiadaan dan kehampaan dalam hidup, sikapi secara waras, mungkin boleh ditertawakan sesekali dan kau akan merasa hidupmu baik-baik saja.

Kau bisa memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup, tetapi kau tak pernah bisa memaksakan seseorang untuk tetap berada di sisimu sementara ia tak ingin. Seringkali kita memaksakan kehendak atas nama ‘kebahagiaan’, padahal di situ ada sesorang yang terluka ataupun menderita. Mungkin bagi sebagian orang, bertahan adalah satu-satunya pilihan, karena tidak terbiasa dengan ketiadaan, tidak terbiasa dengan kesendirian.

Memaksakan kehendak sama saja dengan merampas kebahagiaan orang lain secara paksa, bagiku lebih baik melepaskan seseorang jika ia memang tak ingin bersama lagi. Mungkin bahagianya tak cukup darimu. Biarkan ia mencari bahagianya dengan orang lain, relakan saja. Tuhan pasti tau dengan siapa kau akan menemukan bahagiamu, sebab Tuhan tak akan pernah salah. Kita sebagai manusia seringkali lupa, bahagia yang kita rasakan seringkali menjadi penderitaan bagi orang lain, sadar atau tidak kita sering melakukan itu.

Semoga setiap jiwa-jiwa yang merasakan ketiadaan segera dipertemukan dengan bahagianya.

Hidup ini lucu, jangan lupa untuk tertawa.

Salam,

Voielacte

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.