Between Love and Friendship (Chapter 5)

1
254
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Feeling x Mine x 

Sore itu langit mulai mendung, diiringi oleh tiupan angin yang cukup kencang. Reina masih berdiri menatap Revand dengan tajam, menunggu jawaban. Revand mulai beranjak berdiri sambil masih memegangi pipi kirinya yang sedikit lebam.

“Rei, gue bingung. Kenapa lo menjauh semenjak gue sama Cynthia jadian? Padahal kita kan masih bisa jalan bareng,” ucap Revand dengan nada lirih. Reina membuang muka mendengar ucapan Revand. Ia tidak berani menatap langsung mata Revand. “Rei, please jawab. Gue nggak pernah punya kesempatan buat nanya ini secara langsung,” lanjut Revand lagi. Reina terdiam beberapa saat.

“Sudahlah, gue males aja kayak nggak dianggep. Kita main bareng, tapi kalian sama sekali nggak bilang hal penting itu sama gue,” jawab Reina dengan nada tinggi.

“Bukan gitu maksudnya, Rei. Sebenernya gue nggak mau lo ngerasa canggung, kalo tahu gue ada rasa sama Cynthia. Dan gue rasa, Cynthia pun berpikiran sama.”

“Ah sudahlah! Nggak usah muter-muter deh, maksud omongan lo tadi. Tahu sesuatu tapi belom yakin itu apa?!” bentak Reina.

“Gue udah mikirin ini selama tiga bulan, semenjak lo menjauh. Gue masih ragu sama apa yang ada di pikiran gue dan apa yang gue rasa, tapi mungkin ini waktu yang tepat buat ngejawab semua keraguan gue.” Revand melangkah mendekati Reina. “Rei, gue tahu, alesan lo bukan cuma karena nggak dianggep, tapi alesan lo pasti karena……,” Revand menghentikan ucapannya.

“Karena apa? Vand, lo nggak usah sok misterius gitu deh!” Reina tak sabar.

“Karena lo suka sama gue, kan?”

Reina terdiam sejenak, lalu beberapa detik kemudian tertawa dengan keras.

“Hahahaha. Vand, lo geer banget, sumpah. Mending gue jadi jomblo deh daripada sama elo.”

Melihat Reina tertawa, Revand pun tersenyum sambil mengusap kepala Reina. “Gitu dong. Reina yang gue kenal itu yang kayak gini, yang ketawanya alay. Hehe.” Revand mengetahui benar sifat Reina yang mudah tertawa, oleh karena itu Revand berusaha untuk memecahkan ketegangan di antara mereka. Melihat perlakuan Revand kepadanya, tawa Reina terhenti dan langsung menepis tangan Revand.

“Apaan sih lo ah, pake usap-usap segala.” Reina bergerak menjauh dari Revand.

Revand menanggapi Reina dengan kembali tersenyum. “Gue tadi cuma bercanda, Rei. Soalnya obrolan kita dari tadi, nggak kayak kita yang biasanya. Terlalu tegang, dan gue nggak suka itu.” Ia menatap Reina dengan tatapan yang mulai serius. “Rei, lo ngejauhin gue sama Cynthia, karena lo suka sama Cynthia, kan?”

Mendengar pertanyaan itu, Reina terasa seperti disambar petir. Reina hanya diam terkejut, tidak berkata apa pun. Revand masih menatap Reina dengan serius. “Dari ekspresi lo nanggepin pertanyaan gue tadi, gue udah bisa nyimpulin, kalo dugaan gue selama ini bener, Rei,” lanjut Revand.

Reina diam menunduk, tidak mampu untuk menatap wajah sahabatnya. Revand tahu kalau Reina adalah tipe yang tidak bisa berbohong. Pasti Reina akan menghindari tatapan matanya secara langsung jika ia berbohong.

“Apaan sih? Mana mungkin gue suka sama Cynthia? Jangan ngaco deh, Vand.” Akhirnya Reina angkat bicara.

“Jangan bohongin perasaan lo sendiri, Rei,” balas Revand dengan tatapan sedih.

Reina hanya terdiam dan mulai menahan tangis. Ia memang lemah jika harus berbohong kepada sahabatnya ini. Reina takut orientasi seksualnya terbongkar, dan ia malu untuk mengakui itu di depan Revand.

Melihat Reina yang berusaha menahan tangis, Revand langsung memeluk Reina dan berbisik. “Lo nggak perlu takut apa pun. Gue ngerti kok.” Kemudian Revand memegang kedua pipi Reina, mengarahkan wajah Reina ke arah wajahnya sampai tatapannya dan Reina saling bertemu. “Mau apa pun orientasi seksual lo, mau apa pun bentuk muka atau fisik lo, lo tetep sahabat gue,” ucap Revand dengan senyum hangat. Mendengar perkataan Revand, tangis Reina langsung meledak dan memeluk Revand.

“Makasih banyak ya, Vand. Maafin gue juga yang udah bodoh buat jauhin lo, padahal lo satu-satunya yang ngertiin gue.”

“Iya, nggak apa-apa kok, Rei. Tapi tolong jangan nangis terus, nanti baju gue basah, malah sampe ada ingusnya segala. Haha,” ledek Revand sambil melepaskan pelukannya. Reina cemberut dan berkata, “Rese emang lo ya! Males juga gue meluk lo lama-lama ih.” Setelah itu mereka pun tertawa dan mulai bersenda gurau seperti biasanya.

Keesokan harinya, Reina mengajak Revand mengobrol di suatu kafe untuk menanyakan suatu hal yang masih membuat dirinya bertanya-tanya. Reina masih penasaran, kenapa Revand memutuskan hubungannya dengan Cynthia, karena saat kemarin ditanya, Revand hanya tersenyum. Ia tidak menjawab apa pun dan kemudian mengalihkan pembicaraan. Pada pertemuan hari ini pun, Reina kembali bertanya tentang hal tersebut. Revand masih enggan menjawab dan lagi-lagi mencoba mengalihkan pembicaraan. Tetapi karena paksaan dari Reina, akhirnya Revand angkat bicara mengenai pertanyaan itu.

Revand mengaku, kalau ia sangat sayang dengan Cynthia, karena ia juga merupakan cinta pertamanya. Ia sangat sedih ketika memutuskan harus berpisah dengan Cynthia. Walaupun ia belum yakin tentang dugaannya mengenai Reina yang juga jatuh hati dengan Cynthia, Revand tetap memutuskan untuk mengesampingkan perasaannya dan lebih menjaga perasaan Reina. Rasa sayang kepada sahabatnya itu lebih besar dibanding kepentingan perasaannya sendiri. Tetapi Reina masih tidak bisa menerima alasan Revand yang baginya terkesan melankolis dan seperti menganggap bahwa Reina orang lemah yang patut untuk dikasihani. Mendengar ucapan sahabatnya, Revand mengeluarkan senyum khasnya.

“Rei, bagi gue, mendingan gue sama Cynthia yang patah hati, dibanding lo sendiri yang patah hati. Nggak adil kalau semua kesedihan harus lo yang nanggung, sementara kita seneng-seneng. Karena gue tahu, menerima kenyataan kalau lo jatuh cinta dengan teman sesama jenis aja udah bikin lo susah, apalagi harus lihat sahabat lo pacaran sama orang yang lo cinta.” Revand diam sejenak sambil tetap menatap sahabatnya.

“Gue nggak bisa bayangin itu, dan gue nggak mau bikin lo sakit atau susah, Rei. Karena lo mirip sama seseorang yang sangat gue sayang.”

Mendengar hal itu, hati Reina sangat tersentuh. Reina tidak menyangka bahwa Revand memikirkan dirinya sampai sejauh itu. Perkataan Revand saat itu akan selalu diingat sampai dewasa dan ia berjanji, bahwa ia tidak akan bersikap egois lagi kepada sahabatnya.

“Makasih banyak ya, Vand. Gue beruntung ketemu orang kayak lo,” ucap Reina sambil tersenyum. Ia menepuk bahu Revand dan dibalas dengan tepukan balik di bahu Reina oleh Revand sambil tersenyum.

By the way, maksud lo gue mirip sama seseorang yang lo sayang, emang siapa? Maksudnya mirip apanya emang?” tanya Reina penasaran.

Mendengar pertanyaan Reina, Revand menghela napas dan diikuti oleh senyum kecut yang tergambar pada wajah tampannya. Kemudian ia menatap Reina dengan tatapan sedih dan menjawab, “Iya, Rei. Gue nggak mau lo bernasib sama kayak orang yang gue sayang, makanya gue lakuin semua ini buat lo.”

Reina menatap Revand kebingungan dan seraya bertanya. “Hah? Maksudnya bernasib sama? Emang siapa sih, Vand?”

“Ini tentang adek cewek gue satu-satunya Rei, si Manda.”

“Emang kenapa si Manda?”

“Kalau diceritain, panjang, Rei. Nanti gue pasti cerita, tapi nggak sekarang. Gue belum siap buat cerita masalah ini. Tunggu emosi gue stabil dulu ya, Rei.“

Reina terdiam sesaat dan kemudian mengiyakan omongan Revand tanpa sanggahan apa pun, karena Revand jarang menunjukkan ekspresi sesedih ini kepadanya. Reina masih bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang terjadi dengan Amanda, tetapi dia lebih memilih untuk menahan rasa penasaran itu dan menyimpannya sampai Revand siap untuk memberikan jawaban atas semua pertanyaan itu.

-To be continued-

(Andaa, @fortuneseeker__)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here