Forget Jakarta

0
772
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kata siapa menulis itu mudah?

Menulis selalu menyulitkan, setidaknya untukku. Bukan karena merangkai kata-katanya, tapi harus kembali ke ratusan hari lalu yang sudah kutinggalkan seluruhnya. Well, tidak seluruhnya, karena sebagian tentang kamu selalu punya tempat di kotak hati itu. Meskipun aku takut-takut membukanya.

Alunan lagu dari Adhitia Sofyan kupaksa menemaniku menggambar lagi tentang kamu. Entah sudah berapa kali lagu ini kuputar untuk membangkitkan kenangan lalu yang seharusnya sudah tidak di situ.

I’m waiting in line to get to where you are

Hope floats up high along the way

I forget Jakarta

All the friendly faces in disguise

This time, I’m closing down this fairytale

Ingat tidak dulu kita pernah bergurau kalau kita sudah tidak bersama lagi, mungkin kamu akan pergi ke suatu kota lain, melanjutkan kehidupan baru yang tidak ada orang tahu? Sadarkah kalau gurauan-gurauan kita satu persatu menjadi kenyataan?

Aku sering beberapa kali ingin pergi dari kota ini. Berpikir praktis kalau kepergian tadi serta merta akan menghilangkanmu. Ternyata tidak. Kamu bukan bagian dari kota ini. Hancurnya pun tidak akan menewaskanmu. Kamu bagian dari kepingan kepalaku. Sejauh apapun tempatnya, seterasing apapun daerahnya, kenyataannya aku hanya perlu berdamai dengan diriku sendiri. Banyak-banyak menyadari kalau kamu sudah tidak perlu kucari. Kamu adalah hidupmu sendiri.

And I put all my heart to get to where you are

Maybe it’s time to move away

I forget Jakarta

And all the empty promises will fall

This time, I’m gone to where this journey ends

Kita pernah mencoba untuk saling terbuka dan membiarkan masing-masing dari kita mengenal lebih dalam. Seterbuka aku padamu. Pembicaraan tengah malam hingga dini hari di Flip Burger Karawaci? Masih ingat? Akibat enam bulan yang dilalui tanpa berkalimat. Ya, aku tahu kamu memang sengaja ingin datang agar bisa membuatku berbicara, kan? :/

Sebenarnya aku ingin menghubungimu untuk menyelesaikan semuanya. Tapi aku memberi waktu bagi kemarahanmu agar lebih reda. Dan kamu tahu, tidak pernah sejak akhir Januari sampai saat ini aku berhenti menerbangkan doa ke langit-Nya. Disini aku mulai sadar makna kalimat yang kukatakan sendiri:

Adalah doa-doa, sesuatu yang lebih dekat dari napas kita.

Iya. Doa-doa menyapamu lebih sering tanpa kamu tahu. Doa-doa juga menjadi obat bagiku kalau sedang merindu: Kamu.

But if you stay, I will stay

Even though the town’s not what it used to be

And pieces of your life you try to recognize

All went down

Siang itu, kalau tidak salah hari Minggu. Aku berujar saja pada Rabb-ku, “Pengen ketemu dia dong, Rabb. Tapi nggak pengen ngehubungin duluan. Maunya dia. Bantuin Rabb.”

Bahkan kangen saja aku masih gengsi untuk menghubungi hahaha 😀 Eh tapi benar, kamu kirim WhatsApp tidak lama dari doaku naik. Mengajak buka puasa bareng di Sarinah tapi enggan bawa kendaraan :/ Kalau dari dulu aku bisa bawa mobil atau punya mobil, sudah pasti tugasku adalah antarjemput :/

Percakapan mengalir saja di Soto Ranjau Pak Gendut dan untuk pertama kalinya aku melihat kamu semangat makan tulang ayam 😀 sudah tidak behave lagi hahaha 😀 Aku sering merunduk dan mengedarkan pandangan dari matamu, takut kalau tatap itu mengikat dan menghambat.

Sialnya, kamu mengambil kendali playlist mobil dan mengajakku berputar lagi. Tak berapa lama pun Photograph – Ed Sheeran terdengar. Haruskah ia yang menemani perjalanan malam kita? Bolehlah, kupikir. Toh ini mungkin akan jadi perjalanan panjang terakhir dan setelah ini tidak akan ada lagi kamu. Memang keisenganku ini tanpa batas, aku mengambil ponselmu dan merekam suaraku di Instastory. Untung saja tidak ku-posting 😀 Sengaja. Aku yakin ada bagian dari dirimu yang rindu, sekaligus oleh-oleh agar malam tidak lewat tanpa kenangan.

Mengitari flyover Citiwalk Sudirman hingga Burger King Duren Sawit, mungkin 6-7 kali. Sampai kamu meledekku, “Kenapa muter lagi? Masih kangen ya?” yang kujawab dengan meminggirkan mobil di Indomaret seberang Kota Kasablanka, “Coba itu yang ngomong turun di sini aja.” Khasnya kita. Padahal, iya. Aku kangen.

Perjalanan pulang ke rumah ternyata tidak mudah, aku menyetel Ed Sheeran dan lagu-lagu kita tempo dulu. Ah, sial. Kenapa pertemuan lima jam bisa meruntuhkan pertahanan lima bulan 🙁

I travel the world to get to where you are

Strangers I met along the way

You forget Jakarta

Leaving all the lunacy behind

This time give me back my sanity

Aku sering bepergian. Entah untuk kegiatan sukarelawan, liburan, atau karena pekerjaan. Mencari tenang dari hingar-bingarnya Ibu Kota. Mencari cerita dari bertemu teman-teman baru. Meninggalkan kegilaan, atau sekedar melupakan kamu. Banyak foto-foto selfie-mu yang kuhilangkan dari ponsel, tidak dihapus. Hahaha 😀

Aku tidak seberani yang digambarkan. Kumpulan foto dan video juga kusimpan rapi di harddisk. Begitupun tulisan-tulisan yang kubuat tapi tidak kukirim, dibiarkan saja tanpa dibaca penerimanya.

Sudah saatnya kembali.

Yeah I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta

Promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

Aku sempat bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa semenjak pertemuan terakhir kau seperti mangkir? Pesan-pesanku di social messenger tidak dibalas. Entah sengaja dilewatkan, entah tidak terbaca. Tapi aku tidak pernah berusaha mencari tahu kabarmu, baik bertanya ke teman atau stalking social media. Kau tahulah, itu benar-benar bukan aku. Lalu damai meliputiku sekali lagi. Tuhan baik nih. Ia ingin aku menemukan diriku sendiri. Akhir Juni, aku berhenti merindu dan berdiri lagi. Kali ini lebih tegap, karena kamu pun mulai menguap.

Aku berjanji tidak akan menengok lagi ke belakang. Tidak ada mata yang mencari-cari namamu di obrolan WhatsApp, tidak ada tagging di Path yang sengaja agar kau baca, dan tidak ada lagi candaan bodoh yang kerap kurindukan.

And all the pictures that you try to loose

Will follow you behind like ghosts do

And all the lies you try to keep

Have fall behind to catch you even more

Kau tahu, aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Segala baik dan buruknya kamu: wajah ngambekmu waktu Indomie goreng yang dipesan berubah menjadi Indomie rebus, kamu yang lelah dan langsung meriang habis main di Kota Tua, senyum sumringah kalau habis dibelikan kue hasil rengekan malam hari, diskusi panjang tentang kebijakan plat nomor di Jakarta, keras kepalanya kalau disuruh sarapan atau minum obat karena kamu sakit maag, abang GoJek yang kupesan karena harus mengantarmu dari kos ke kantor supaya tidak telat, bunga pertama dengan pesan dan nama pengirim yang nyeleneh, atau obrolan kecil kita yang tidak pernah membuatku bosan selama satu setengah tahun lebih menemani.

Kamu, seluar biasa itu.

Sekarang aku pulang, segera mengemasi barang-barang. Meninggalkan kegilaan dan pigura yang terpasang di pikiran. Membiarkan kamu melewati ruang perasaan yang sudah kebas dengan tangisan.  Dan menatap nanar langkahmu di penghujung perjalanan kita. Kamu akan berjuang di kota seberang. Melenyapkan Jakarta menjadi memori pribadi. Kemudian melupakan, mengendapkan sudutnya di ruang imaji.

Namun bagiku, Jakarta tetap kamu. Kota riuh yang selalu membuatku ingin berlabuh. Sembari memanggil bayang-bayangmu yang kian meluruh. Kamu mungkin menjauh, tapi seberjarak apapun itu, doa akan selalu menyentuh.

(Utarel, @utaraelhuda)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.