Life of a Bi 2 (Part 1)

0
562
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Bu! Ibu!” Suara anakku yang berlari ke arahku seketika membangunkan dari tidurku.

Aku mencoba membuka mata, meski masih berat menahan sakit di kepala. Mataku silau dengan cahaya lampu yang tiba-tiba dinyalakan anakku.

“Kenapa, Nak?”

“Ini, Bu. Telepon Ibu bunyi.”

Aku meraih telepon genggamku darinya.

“Nomor HP ini..,” gumamku dalam hati.

Aku langsung mengangkat telepon itu.

“Halo?” Aku menjawab telepon yang dari tadi sudah berdering.

“Halo,” suara itu, akhirnya kumendengarnya lagi.

“Kak, Kakak nonton TV lagi gih, sambil matiin lampunya ya, Sayang,” aku menjauhkan telepon genggamku dariku, lalu menutup speaker-nya sambil meminta anakku pergi. Aku khawatir dia mendengar pembicaraan ini dan bicara yang tidak-tidak pada Ayahnya.

“Kamu lagi di mana? Kok matiin lampu? Kok ada si Kakak?” Aku terdiam tak bisa menjawabnya.

“Mi, are you okay?” suara telepon di ujung sana masih terus bertanya karena aku belum jua menjawab pertanyaannya.

“Nggg.. Iya lagi cuti,” akhirnya aku memberanikan diri menjawabnya.

“Kamu kenapa? Pusing lagi kepalanya?” air mataku seketika jatuh tak terbendung. Mengapa orang ini sangat paham keadaanku. Namun aku harus menahannya agar dia tak tahu.

“Nggak kok. Aku nggak apa-apa, Cel,” ujarku berusaha menutupi apa yang aku rasa saat ini.

“Pusingnya banyak atau dikit?” Tangisan ini makin deras mengalir dari mataku. Ah, aku memang tak lihai membohongi orang ini.

Aku menarik nafas dan berusaha menormalkan suaraku, supaya tidak terdengar sedang menangis.

“Sedikit, kok.”

“Jangan pusing terus ya. Masa yang lagi ulang tahun sakit. Happy birthday ya, Mimi. Semoga panjang umur, bahagia terus, jangan sakit-sakit lagi ya. Kan udah janji katanya nggak akan sakit lagi.”

Tangisan ini semakin menjadi-jadi. Betapa orang ini yang aku inginkan. Orang yang sangat mengerti keadaanku, orang yang paling tahu apa yang aku butuhkan.

“Ya udah, aku makan siang dulu ya. Kamu sehat-sehat ya, Sayang. Jangan banyak pikiran. Yang happy dong, kan lagi ulang tahun.”

“Iya, makasih banyak ya, Cel. Selamat makan siang ya.”

“Iya, Mi. Bye.”

Bye, Cell.”

Percakapan kami pun berakhir siang itu. Hari ini memang hari ulang tahunku, tapi aku terbaring lemah di tempat tidurku sedari kemarin. Rasa sakit di kepalaku membuatku tak bisa masuk kerja saat ini.

Air mataku masih belum berhenti mengalir, terlebih lagi saat aku sudah mendengar suaranya. Suara dari seseorang yang sangat aku rindukan. Apalagi mendengar kata sayang masih terucap darinya.

Aku masih terbaring di posisi yang sama, masih terjebak dalam kesedihan yang mendalam. Rindu dengan seseorang yang tak lagi denganku, namun masih menyempatkan waktu untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun di waktu istirahat makan siangnya.

“Bu, Kakak laper,” anakku tetiba menghampiri dan memelukku sambil meminta makanan, aku buru-buru menghapus air mataku. Tak sadar sudah sejam lebih aku menangis, sampai lupa harus menyiapkan makananan untuk anakku.

“Iya, Sayang. Sebentar ya,” aku berusaha untuk bangkit dari tempat tidurku, aku tak boleh terpuruk begini terus. Aku punya kehidupan yang harus aku jalani.

Aku berjalan ke arah dapur meski sambil sempoyongan dan menahan rasa sakit kepalaku. Aku melewati sebuah cermin yang menggantung di tembok. Kulihat sosok seorang wanita yang sangat lusuh, berantakan, bermata bengkak karena habis menangis, dan masih memakai baju tidurnya.

Kuhampiri cermin itu. “Sampai kapan kamu mau begini, Mi? Bukannya ini yang kamu mau?”

****

Kehilangan Nucky masih membuatku kepikiran akhir-akhir ini. Aku masih belum bisa melepaskannya, meskipun aku harus. Aku tahu Nucky sudah bahagia dengan Tiara, namun aku masih belum bisa berhenti memikirkannya.

Hal ini membuatku semakin aktif di alter akunku di Twitter. Aku mention akun ini dan itu, bahkan ada beberapa akun yang aku DM. Aku pun mem-follow beberapa akun yang baru. Hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan karena Nucky cemburu bila ada yang kirim DM atau permintaan pertemanan. Namun kali ini aku sudah tidak dengan Nucky lagi. Aku butuh teman untuk bercerita.

Dari beberapa orang yang aku DM, ada satu orang yang terus-terusan berbalas pesan denganku. Aku dan dia membicarakan beberapa lagu yang kebetulan kami sama-sama suka.

“Gimana, nemu nggak link-nya?” Sapa dia di DM siang itu. Kami masih asik bertukar pesan, membicarakan soal lagu akustik.

“Aku nemu sih, tapi pas di-download bukan versi akustiknya.”

“Nah kan, emang susah cari link-nya. Aku kirim di Line mau? Minta ID Line kamu deh.”

Tanpa pikir panjang, aku berikan ID Line milikku kepadanya. Aku benar-benar kehilangan akal, benar-benar sedang butuh teman. Biasanya aku tak pernah mau memberikan sosial media asliku kepada orang-orang di alter akun untuk melindungi identitasku. Kali ini entah kenapa aku mau memberikannya.

“Manaaa? Kirimin lagunyaa!” Kuketik kalimat tersebut saat menyapanya di aplikasi Line. Obrolan kami berlanjut di aplikasi itu. Mengobrol dengan orang ini seperti bertemu orang lama saja. Kami asyik sendiri, chatting sedari tadi padahal kami sedang bekerja.

“Btw, kamu tau gitu nama aku siapa?” Entah keasyikan atau bagaimana, kami sampai lupa untuk berkenalan. Aku tertawa membaca chat-nya. Lucu. Berpuluh-puluh pesan yang kami kirim, tapi lupa untuk menanyakan nama.

“Haha, iya sampai lupa dong nanyain nama. Nama kamu siapa?”

“Russell. Panggil aja Ucell yah.”

Dan semenjak itupun kami intens berkomunikasi, entah itu via Line, atau mention di Twitter. Aku pun sering curhat kepadanya tentang Nucky. Russell satu-satunya orang yang aku cari ketika aku teringat Nucky.

“Eh, kamu belum cerita kenapa putusnya sama Nucky, Mi.”

“Simpel sih alasannya, karena Tiara itu single, aku udah married.”

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.