Life of a Bi 2 (Part 2)

0
461
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Ya. Kalah saing oleh perempuan berstatus single memang membuat hatiku dongkol. Hal yang memang bukan tandinganku untuk bisa menang. Hal yang menjadi kelemahanku saat bersama dengan Nucky. Hal yang menjadi penghalangku saat aku ingin bertemu dengan Nucky.

Kekurangan apapun bisa aku usahakan untuk perbaiki. Namun untuk hal yang satu itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Perempuan itu seolah jadi memiliki segalanya untuk Nucky, bahkan hal yang tak bisa kuberikan kepadanya.

Sejenak aku teringat akan sakitnya hati ini saat Nucky pergi meninggalkanku. Namun, ya sudahlah. Aku berjuang pun percuma, karena akan begitu-begitu saja akhirnya. Aku akan menyakiti Nucky dengan segala pengorbanannya. Meskipun demikian, sulit bagiku untuk tak memikirkannya. Walaupun berakhir dengan pahit tapi tak dapat kupungkiri, Nucky banyak memberikan kenangan manis.

“Oh gitu. Berapa lama pacarannya?”  Notifikasi chat dari Ucell membuyarkan lamunanku.

“Hampir tiga tahun,” jawabku. Bayangkan saja hampir tiga tahun bersama Nucky, berakhir seperti itu, dan aku harus berhenti memikirkannya. Rasanya tak sanggup.

Menjadi seorang biseksual yang baru menyadari ketertarikan pada perempuan saat sudah menikah membuatku tak memiliki teman dari dunia yang sama. Nucky juga dulu tak tergabung dalam komunitas apapun. Dia sudah lama menjauh dari geng lesbiannya. Hal ini membuatku jadi sama sekali tak punya teman yang mengerti akan keadaanku sekarang. Aku hanya bisa memendam semuanya karena tak ada teman untukku bercerita soal ini.

Seringkali aku harus terlihat baik-baik saja di depan suamiku, padahal aku sedang ingin menangis sejadi-jadinya. Tak mudah menjalani hari-hari setelah Nucky pergi. Aku jadi semakin harus berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa, meski sebetulnya dalam hatiku sedang bergejolak kesedihan mendalam. Aku harus tetap menjalani kehidupanku seperti biasa, tanpa ada orang yang tahu tentang kesedihanku, tanpa ada yang mengerti kegalauanku.

Namun akhir-akhir ini Ucell menjadi teman yang selalu ada untukku. Setiap aku melihat Tiara update status atau memasang display picture baru, pasti aku mengadu kepadanya.

“Mi, udah dong. Jangan galau terus. Nucky aja udah bahagia sama Tiara. Masa kamu mau gini terus. Move on dong!” Ucell yang selalu menguatkan aku. Memberikan petuah-petuahnya kepadaku.

Seandainya saja move on semudah itu, pasti sudah aku lakukan. Sayangnya, keinginan kadang tak semudah harapan. Hatiku malah sakit rasanya setiap melihat update-an Tiara.

Delete contact sih, Mi. Jadi kamunya nggak kepikiran terus kayak gini,” lagi-lagi Ucell menasihatiku setelah aku merengek karena melihat Tiara update screenshot percakapan Tiara dan Nucky di BBM menjadi display picture BBM-nya.

“Nggak, Cel. Aku butuh ini. Aku butuh melihat ini terus supaya aku disadarkan kalau Nucky benar-benar sudah menjadi milik Tiara sekarang.”

Aku memang butuh melihat Tiara, wanita yang benar-benar menjadi pujaan Nucky saat ini. Supaya aku berhenti menjadi seperti ini, supaya aku berhenti memikirkannya.

“Ceeellll. Si Nucky nge-tweet lagiiii!!” Siang itu aku heboh mengirim pesan bertubi-tubi di Line, karena aku melihat Nucky men-tweet lagi.

Setelah sekian lamanya tanpa kabar, dia muncul lagi, walau hanya di akun alter miliknya. Itu pun hanya men-tweet tanda titik sebanyak 10 kali.

Tapi aku puas, setidaknya Nucky melihat sisi lain kehidupanku yang baik-baik saja tanpanya. Terlebih lagi akhir-akhir ini banyak mention dariku dan Ucell di Twitter, biarlah dia mengira ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Ucell.

“Udah ya, Mi. Jangan kepikiran terus. Udah biarin aja, cuekin aja. Jangan tunjukkin ke dia kalau kamu galau ditinggal dia.”

Lucu rasanya kalau dipikir-pikir. Ucell datang benar-benar di saat yang aku butuhkan. Dia baru kenal denganku beberapa minggu saja tapi sudah bisa mengerti aku, bisa mendengarkan aku, bisa tahu kalau aku ini perlu diperlakukan seperti apa.

Kehadirannya dalam hidupku yang sedang kacau pasca ditinggal Nucky, dalam fase berpura-pura baik-baik saja dan dalam keadaan butuh teman akut, membuat aku sedikit demi sedikit melupakan Nucky.

Kami tak putus komunikasi. Namun Ucell tahu ketika aku sedang di rumah dia tak akan menghubungiku, meskipun aku tak meminta dia melakukan hal itu. Dia seperti sudah otomatis tahu harus bagaimana menghadapiku yang sudah memiliki suami. Dia bahkan tak menghubungiku saat weekend, saat dimana aku libur kerja dan ada di rumah bersama keluargaku.

Saat aku di kantor, kami terus-menerus bertukar pesan. Sesekali menelepon hanya sekedar menanyakan sedang apa dan sudah makan atau belum. Kami saling bertukar kabar dan candaan. Seru rasanya mengobrol dengannya. Tak ada perasaan canggung padahal kami baru saja berkenalan.

“Kamu kenapa sih, Mi, nggak cari pacar lagi aja?” Ucell tiba-tiba menanyakan hal itu padaku di tengah-tengah obrolan kami.

Semakin lama aku semakin merasa nyaman dengannya. Pertanyaannya itu, apakah dia sengaja memancingku untuk mengetahui jawabannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan? Merasa nyaman dan merasa sering senyum setiap kali membaca chat-nya?

“Aku udah janji sama Nucky, kalau dia itu perempuan pertama dan terakhirku. Aku udah terlanjur janji.”

Aku memang pernah berkata demikian pada Nucky, saat dia sedang cemburu padaku. Aku berkata padanya bahwa dialah satu-satunya perempuan dalam hidupku. Bahkan saat aku menemui Tiara, aku pun berkata demikian kepadanya.

Ucell seperti mengingatkanku untuk berpegang teguh pada omonganku. Aku harusnya tak boleh seperti ini, tak boleh memberikan Ucell harapan. Bagaimana kalau benar, bahwa Ucell juga merasa nyaman denganku? Bagaimana kalau dia juga semakin merasa ada sesuatu yang lain yang tumbuh di antara kami? Apakah aku bisa memberinya kesempatan lagi? Bukannya aku sudah berjanji pada Nucky dan mengatakan pada Tiara kalau Nucky itu perempuan pertama dan terakhirku.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.