Life of a Bi 2 (Part 3)

0
385
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Aku berada di posisi ini lagi, seperti saat pertama aku menyadari ada sesuatu yang kurasa berbeda terhadap Nucky. Dilema. Namun kali ini dilema yang berbeda. Kali ini aku mulai merasa nyaman lagi dengan perempuan, tapi aku terlanjur berjanji pada Nucky dan aku tak ingin mengkhianati kata-kataku sendiri.

Selain itu aku pun takut nantinya rasa bersalahku akan tumbuh lagi seperti yang kurasakan pada Nucky. Aku tak sanggup melihat pengorbanan orang yang mencintaiku sementara aku tak bisa memberikan apa-apa untuknya. Aku juga takut nantinya dia lebih memilih perempuan single, seperti yang dilakukan Nucky.

Mungkin aku terlalu berpikir jauh, karena kami bertemu pun belum. Mungkin saja Ucell tidak merasa demikian. Namun aku tak mau nantinya dia merasa diberi harapan kosong olehku.

Akhirnya aku lebih memilih menjauhi Ucell sebelum semuanya semakin jelas. Aku takut Ucell juga merasakan hal yang sama denganku. Aku memblok akun Line dan WhatsApp-nya, sehingga kami kembali hanya bisa chat via DM Twitter.

“Cell, sorry aku uninstall Line sama WhatsApp. Cuma bisa BBM aja. DM aja ya kalau ada apa-apa,” aku mengirim pesan via direct message di Twitter pada Ucell, bohong sedikit karena aku juga tak mau terlalu kepedean kalau bilang aku menghindar.

Berkali-kali Ucell menelepon siang itu, tapi tak kuangkat. Dia mencoba menghubungiku di nomor kantorku. Setelah berkali-kali berdering akhirnya aku angkat.“Aku lagi sibuk, Cell. Nanti lagi ya teleponnya,” ujarku. Ada sedikit rindu dan rasa kehilangan saat aku menjauhinya. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini dia mengisi keseharianku.

Hampir seminggu aku menghindar darinya, tapi hati ini mencari keberadaanya. Aku mulai merindukannya. Kami juga masih bertukar pesan di DM, sambil sesekali saling mention. Kupikir percuma sajalah aku menjauh dari Line dan Whatsapp kalau aku masih berkomunikasi dengannya via Twitter.

Aku memutuskan untuk meng-unblock kontaknya. Aku kembali lagi seperti sebelumnya, kembali ke rutinitas Mimi dan Ucell sebelumnya. Chatting setiap saat, setiap hari, tapi masih tetap pada jam kerja.

“Mi…”

“Ya?”

“Kok aku senyum-senyum terus ya kalau chat sama kamu?”

Hihi… Sebenarnya aku pun demikian. Akhir-akhir ini aku sering merasa senang karena Ucell. Aku sering senyum-senyum sendiri saat chatting dengannya. Mungkin aku sedang kasmaran? Entahlah.

Semakin hari aku semakin dekat dengannya. Ucell sempat menyatakan perasaannya padaku, tapi saat aku tanggapi bahwa aku masih belum siap dan merasa aneh karena belum bertemu, dia malah berkata, “Hahaha ya udah, Mi. Aku cuma bercanda juga. Biar kamu nggak kepikiran Nucky terus.”

Dang! Aku jadi malu. Aku sudah menanggapi serius, ternyata dianya bercanda. Entah betulan bercanda atau hanya alasan saja. Namun perkatannya tak merubah rasa yang sedikit demi sedikit tumbuh dalam hatiku.

“Tanggal lahir kamu kapan sih, Mi?” Russell tetiba menanyakan kapan aku lahir. Hmm, semakin seperti orang yang sedang pendekatan saja, pikirku.

“Mau ngasih kado apa gimana nih?” candaku pada Russell.

“Kalau nama asli kamu siapa? Aku boleh tahu?”

“Amytha, tapi dari kecil aku dipanggilnya Mimi.”

“Bagus ya namanya. Nama panjangnya apa?”

“Amytha Monica.”

“Wait.. Monica? Nama kamu Amytha Monica? Serius?”

“Iya, serius. Emang kenapa?”

“Kok nama panjang kamu sama sih sama nama panjang aku?”

“Hah? Masa? Nama kamu Russell Monica?”

“Iya. Serius. Haha kok bisa sih?”

Wow. Aku tak menyangka bisa terjadi kebetulan yang seperti ini. Hal yang sangat langka bisa terjadi, tapi ini terjadi kepada kami. Aku dan Russell larut dalam candaan tentang nama kami.

“Jangan-jangan kamu ini kakak aku ya, Cell?”

“Wah, jangan-jangan bokap aku punya istri lain, anaknya kamu. Hahaha…”

“Hahaha! Bisa jadi. Jadi kayak program Tali Kasih nih, ketemu kakak yang sedari lahir belum pernah ketemu.”

“Bisa aja nih kamu.”

By the way, kok nama kamu unik sih? Depannya udah gagah gitu, Russell. Eh, belakangnya Monica. Hahaha!” aku dan Russell tak henti-hentinya bercanda dan tertawa.

“Iya, jadi papaku tuh pengen punya anak laki lagi. Padahal kakakku laki juga. Terus si Papa nggak mau tahu, namanya kudu Russell. Nama anak cowo kan itu, nyokap awalnya nggak ngasih. Tapi akhirnya nyokap bolehin, asal nama belakangnya Monica. Biar tetap ada cewek-ceweknya, katanya. Aku sebel sih sama nama belakangku. Makanya aku singkat aja jadi Monc. Jadi namanya Russell Monc aja. Hahaha!”

“Oh gitu. Pantesan nama depan sama belakang kok bertolak belakang banget gitu ya. Lucu namanya Monc, aku panggilnya Monc aja ah.”

“Aku panggil kamu apa dong? Hmm. Oh, Ica aja. Jadi kalo disatuin jadi Monica.”

“Ciyee. Udah pake panggilan spesial aja nih kita? Hahaha…”

Hari demi hari aku dan Russell semakin dekat saja. Semakin banyak melakukan hal-hal yang dilakukan orang yang sedang pendekatan. Aku akui, aku mulai terbawa suasana. Russell orang yang baik, pengertian, dewasa dan sangat tahu bagaimana harus menghadapiku.

“Mi, would you open your heart for me?”

Tetiba saja Ucell mengirimkan chat itu disela obrolan kami sore itu.

“Bercanda lagi kali ah,” gumamku dalam hati.

“I’m not kidding, I’m serious.”

Woah. Ini memang gila, aneh tapi nyata. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Ya, aku jatuh cinta dengan orang yang bahkan belum pernah aku temui.

“Let me try.” Hanya itu jawabanku padanya sore itu. Aku mulai membuka hatiku untuknya, dan sedikit demi sedikit mulai melupakan Nucky. Mulai dari sore itu aku dan dia semakin intens berkomunikasi, bahkan kami sudah merencanakan untuk bertemu.

“Tapi aku nggak bisa nemuin kamu pas weekend atau hari libur. Aku paling cuti pas weekday, gimana dong?”

“Ya, aku tahu. Aku juga udah ngajuin cuti kok. Minggu depan kita ketemu ya.”

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.