Life of a Bi 2 (Part 4)

0
417
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Baby, aku udah nyampe.”

Hatiku tiba-tiba dag dig dug tak karuan rasanya. Aneh tapi juga membuatku excited, karena aku akan bertemu dengan pacarku untuk yang pertama kalinya. Dia sudah tiba di hotel tempatnya akan menginap nanti malam.

“Oh iya sebentar, aku ke sana ya.”

Aku segera menuju ke tempat di mana dia berada. Siang itu terasa cukup panas, tapi tidak melelehkan kegugupanku. Duh, jantungku berdegup semakin tak karuan, tanganku dingin. Gugup sekali rasanya.

Tok, tok, tok.

Akhirnya aku berada di depan kamarnya. Di depan sebuah ruangan yang di dalamnya ada seseorang yang menemaniku akhir-akhir ini.

“Hai, masuk.” Dia membukakan pintu dan mempersilakanku masuk.

Situasinya sangat canggung, karena kami sudah sangat dekat via chat dan telepon, namun baru kali ini kami saling bertatap muka.

“Duh, kunci motor!” Aku panik mencari-cari kunci motorku di dalam tas. Aku tak bisa menemukannya.

“Kenapa?”

“Kunci motorku nggak ada. Apa jangaa-jangan masih gantung di motor ya? Duh.”

Saking gugupnya aku sampai-sampai lupa mencabut kunci motorku.

“Ya udah, sebentar aku liatin dulu ke bawah. Motornya apa? Warna apa? Platnya berapa?”

Tak lama kemudian Russel turun ke parkiran lalu kembali lagi ke kamar.

“Ini kan? Hati-hati dong kamu, kalau hilang motornya gimana?”

Cereboh memang. Namun bagaimana, aku tak bisa menyembunyikan kegugupanku. Situasi kembali hening dan canggung.

“Kenalan dulu dong,” aku mengulurkan tanganku ke arahnya, supaya mencairkan suasana. Dia pun meraih tanganku layaknya orang yang sedang berjabat tangan dan berkenalan.

“Amytha,” aku menyebutkan namaku.

“Russel.”

Lalu kami tertawa terbahak-bahak.

“Aneh ya kita, pacaran dulu, baru ketemuan, terus kenalan.” Kami tertawa lagi.

“Udah gitu ketemuannya di hotel lagi. Kamu mau ngapain aku sih?” Setelah itu kami tak henti-hentinya tertawa. Menertawakan keunikan hubungan kami.

Menghabiskan waktu bersama Russel ternyata membuatku tak sadar ternyata sudah pukul 17.30 WIB. Aku harus segera pulang

“Aku langsung pulang nggak apa-apa ya?” tanyaku kepadanya.

Seharian tadi kami pergi makan dan jalan-jalan sebentar. Aku mengajak Russell keliling-keliling dan mengenal Bandung, kota di mana aku tinggal.

Russell memang bukan orang Bandung, dia tinggal di Jakarta. Setelah itu aku harus pulang dan tak bisa menemaninya menginap, atau mengajaknya menginap di tempatku. Tak mungkin rasanya, karena di rumah ada suami dan anakku. Aku harus meninggalkannya sendirian karena pulang ke rumah.

Setibanya aku di rumah, pikiranku berlarian memikirkan Russell.

“Dia lagi ngapain ya? Udah makan belum ya? Dia tahu nggak ya tempat beli makan di mana? Russel juga nggak punya temen di Bandung, dia lagi ngapain dong?” Batinku sibuk sendiri. Sedih rasanya aku tak bisa menemaninya seharian walaupun sangat aku sangat ingin bisa melakukannya. Apa daya.

Keesokan harinya aku kembali menemuinya di hotel.

“Kamu semalem ngapain?” tanyaku kepadanya pagi itu.

“Hmm, nonton, terus tidur.”

“Nggak bete sendirian?”

“Enggak, kok. Ya kayak aku lagi di rumah aja, kan gitu juga.”

Kami pun bercerita macam-macam. Mengobrol seperti yang biasa kami lakukan. Bedanya, sekarang kami bisa bercerita langsung dengan saling bertatapan.

Kami beradu tatap, dia menatapku. Di mata itu aku lihat masih ada kecanggungan, sama sepertiku. Namun rasa yang telah ada bahkan sebelum kami bertemu, mengalahkan kecanggungan itu. Russel sedikit demi sedikit memejamkan matanya dan bibirnya mendekati bibirku.

“Kamu, orang teraneh yang aku temui di Twitter. Aneh karena bisa membuat aku begini. Meskipun kamu baru aku temui sekarang, tapi kok kamu bisa sih bikin aku merasa sayang? Bahkan saat ini kamu lagi cium aku dan aku bisa fine-fine aja,” hatiku bergumam sambil bibirku masih menyambut ciumannya.

That’s our very first kiss. Terasa hangat dan nyaman.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.