Love and Acceptance (Chapter 2)

0
235
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sudah satu minggu Krisan pergi ke luar kota. Ada event road show dan ia diminta menjadi MC. Hari ini ia akan pulang. Aku yang sudah lebih dari sepekan tidak bertemu dengannya mengirimkan pesan ke Whatsapp, berharap Krisan membacanya begitu landing di bandara.

Alya : San, udah landing belum? Kangen nih. Ketemu yuk?
Krisan : Alyaaaaa, gue baru aja landing. Gue nginep di rumah lo ya malem ini. Boleh nggak?
Alya : Boleh banget. Masa iya lo mau nginep nggak gue bolehin. Mana mungkin gue melewatkan kesempatan bisa tidur sambil cuddling sama lo.
*delete delete delete*
Bolehlah, sini cepetan gue tungguin.
Krisan : Okay. Gue otw ya. Miss you so much.

“Krisan, you have no idea how much I miss you,” batinku.

Tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara klakson dari taksi online yang dinaiki Krisan. Aku segera membuka pagar dan langsung disambut pelukan kencang darinya.

“Gila, gue kangen banget sama lo, Al.”

Aku tertawa, tidak mempercayai mulutku untuk mengeluarkan kata-kata. “Jadi, gimana road show-nya?”

“Seru banget! Capek sih, tapi ya namanya kerjaan. Eh, gue bawa oleh-oleh buat lo.” Krisan lalu mengeluarkan dress dari dalam kopernya. “Gue beli dress buat lo, samaan sama gue.”

“Aww, thank you. Tapi kenapa samaan sih? Pengen banget lo couple-an sama gue?” komentarku sambil tertawa penuh harap ia akan menjawab “Iya.”

“Emang nggak boleh punya baju samaan sama sahabat sendiri?”
Sahabat. Kata-kata yang belakangan ini menghantuiku. Sahabat. Hanya sahabat. Tidak lebih.

Kalau dipikir-pikir, lucu rasanya. Untuk sampai ke tahap bisa menerima hanya dianggap sahabat oleh Krisan tidaklah mudah. Aku harus melewati perasaan yang campur aduk bak naik roller coaster. Masih teringat jelas di benakku saat pertama kali aku mengetahui kalau Krisan dekat dengan bosku sendiri. Hatiku hancur bukan main. Hancur, karena merasa dikhianati oleh sahabat sendiri. Saat aku berjuang mati-matian melawan perasaanku kepadanya. Perasaan yang masih amat tabu dan tidak seharusnya aku rasakan, karena kita sama-sama perempuan, tapi ternyata ia menjalin hubungan dengan Andra. Ya, bosku itu bernama Andra. Seorang perempuan yang membawaku masuk ke dunia event organizer.

Pertama kali Krisan mengenalkanku kepada Andra, aku sudah menangkap gelagat tidak wajar. Gaydar-ku menyala untuk pertama kalinya.

* * *

2012

“Lo tahu nggak, sebenarnya ada hubungan apa gue sama sahabat lo itu?”

Aku terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Jantungku berdegup kencang penuh antisipasi atas kalimat yang akan keluar dari mulut Andra selanjutnya. Menit demi menit berlalu, tetapi kalimat lanjutan itu tak kunjung muncul. Alih-alih melanjutkan kalimat, Andra malah mengeluarkan telepon genggam miliknya dan membuka folder foto yang berisi foto dan video dirinya bersama Krisan. Foto mereka sedang liburan ke Jogja, foto Krisan yang memamerkan tubuh indahnya dengan hanya berbalut bikini two pieces, serta video Krisan sedang berenang di kolam renang pribadi yang disewa Mbak Andra untuk liburan bersamanya. Mataku tertuju pada deretan foto dan video di handphone bosku itu, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa. Pandanganku kabur. Seakan ada kabut yang menghalangi pandanganku untuk melihat baris demi baris yang berisi gambar Krisan dan Andra.

Hatiku hancur. Krisan yang sangat aku sayangi atau bahkan mungkin aku cintai, ternyata memiliki rahasia yang menjadi impianku diam-diam. Apa aku punya hak untuk marah? Tidak! Aku tidak punya hak untuk marah. Namun..….
Batinku beradu.
Aku ingin marah, tapi dengan alasan apa?
Aku memutar otak sekeras mungkin. Hati dan perasaan melawan logika. Aku tidak bisa marah atas hubungan Krisan dan Andra, karena aku diam-diam mengharapkan hubungan yang sama. Hubunganku dengan Krisan, sahabatku.

Aku ingin segera bicara dengan Krisan. Mengkonfirmasi semua foto yang telah aku lihat dan semua video yang telah aku tonton dari telepon genggam Andra.
Aku menemukan alasan untuk marah kepada Krisan, meskipun sebenarnya aku tidak benar-benar marah. Aku hanya butuh melampiaskan kesedihanku. Aku tidak mungkin menceritakan hal itu kepada siapapun, bahkan kepada teman-teman satu peer-ku. Masalah preferensi seksual masih menjadi masalah yang sangat tabu pada saat itu.

“Gue marah, karena gue tahu itu dari orang lain dan bukan dari mulut lo sendiri, San.”

“Gue nggak akan akan mungkin cerita hal seperti itu sama lo, karena gue takut akan kehilangan lo sebagai sahabat,” kata Krisan terbata-bata sambil menahan air mata. “Dan gue kecewa, karena lo percaya omongan orang lain dan bukannya omongan gue, sahabat lo sendiri.” Krisan berusaha membela diri, membalikkan semua perkataanku.

“Kalau sekadar omongan, gue masih bisa manage mana yang harus gue denger dan mana yang nggak. Ini gue lihat sendiri dengan mata gue. Foto kalian bermesraan, video kalian berciuman.” Setengah mati aku menahan tangis.

Semua harus selesai hari ini, pikirku.

Sayangnya, malam itu tidak berakhir seperti yang aku harapkan. Hubungan persahabatanku dengan Krisan hancur. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk pulih dari kejadian itu. Aku tidak bisa melihat foto Krisan di semua social media yang aku punya, dan dari semua messenger yang menghubungkan kita.

* * *

“Gue pinjem kaos sama celana pendek lo ya, Al. Gue mau bersih-bersih terus tidur.” Suara Krisan memecah lamunanku. Aku mengambil kaos dan celana pendek favorit Krisan dari dalam lemari dan melempar ke arahnya. Krisan yang berhasil menghindar menjulurkan lidah, meledekku.

“Nggak kena, wleeek.”

How can she be so cute and sexy at the same time? It’s not fair.

Waktu yang paling kutunggu-tunggu pun tiba. Aku dan Krisan sudah terbiasa tidur di satu ranjang. Mungkin untuknya itu hal yang biasa saja, tapi untukku? Hal yang paling sulit dilakukan daripada ujian Kimia, Fisika, dan Matematika. Aku harus menjaga gesture, agar Krisan tidak curiga. Saat Krisan mulai masuk ke dalam selimut, aku merasa kehangatan tubuhnya menyentuh kulitku. Tanpa bicara sepatah kata pun, Krisan melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku ke belakang, sehingga kepalaku berada tepat dibawah dagunya. Jantungku berdebar, berharap Krisan tidak mendengarnya. But somehow, this feel so right. The two of us cuddling with each other after a long exhausting day.

Di saat aku berusaha memelankan detak jantungku, aku menyadari ada yang aneh. Aku merasakan detak jantung Krisan dan napasnya yang memburu. Aku yakin bukan seperti itu napas orang yang sedang tidur. Aku tidak berani membalikkan badanku untuk melihat apakah dia sudah tidur atau belum. Detak jantungku pun kembali berdegup kencang. Susah payah aku menahan diri supaya tetap tenang, tapi hasilnya malah jadi dua kali lebih kencang. Aku mencoba mengabaikan dan berusaha memejamkan mata. Daripada aku tergoda untuk menciumnya.

 

-Citsatig

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.