Love and Acceptance (Chapter 4)

0
305
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Di Sabtu malam yang seharusnya menjadi malam pacaran atau untukku menjadi malam di mana aku bisa pergi dengan orang yang dekat denganku, notifikasi tanda pesan masuk di handphone-ku berbunyi. Ugh, Mbak Andra. What is she want from me on Saturday night? Dengan setengah hati aku membuka pesan dari bosku.

Mbak Andra: Al.

Mbak Andra: Al.

Aku paling malas dengan tipe pesan seperti ini. Pesan yang ditulis singkat-singkat dan membuat handphone-ku tidak berhenti berbunyi. Aku sengaja mengabaikannya dan baru kubalas 10 menit kemudian.

Alya                 : Yes, boss.

Mbak Andra    : Al, lo tau Krisan di mana nggak? Dia ke Singapore sama cowoknya apa di Jakarta?

Ya ampun, masih aja nanyain Krisan. Kalaupun aku tahu Krisan di mana, aku pasti tidak akan memberitahukannya. Eh, tapi tunggu. Kok tiba-tiba Mbak Andra nanya Krisan ada di mana? Apa mereka masih berhubungan? Kenapa aku tidak tahu hal ini?

Alya                 : Nggak tahu, Mbak. Aku nggak kontak-kontakan sama Krisan. Terakhir aku Whatsapp dia beberapa hari lalu dan dia ngabarin kalau handphonenya rusak.

Mbak Andra    : Iya, gue tau handphone-nya rusak. Cuma dia emang lagi kesel sama gue semingguan lebih ini. Nah sekarang dia nggak ada kabarnya. Gue nggak tau dia di mana.

Duh, aku sama sekali nggak mau tahu urusan lo yang super njelimet ini, bos, rutuk-ku dalam hati.

Aku tahu betul bagaimana rumitnya hubungan Krisan dan Andra, tapi aku merasa tidak perlu tahu lebih dalam, karena banyak hal yang lebih penting yang harus kuurus.

Alya                 : Terakhir cuma itu doang, Mbak. Itu juga aku nggak tanya dia lagi di mana. Belum ada kepentingan lagi aku sama dia.

Mbak Andra    : Masalahnya seperti biasa.

Mbak Andra    : Akses gue diblok

Mbak Andra    : Sama dia

Mbak Andra    : Sesuka hati dia aja

Mbak Andra    : Dia marah karena gue deket sama orang lain

Mbak Andra    : Terus jadi bete

Mbak Andra    : Lo tau lah

Mbak Andra    : Heran gue

Mbak Andra    : Yaudah, Al

Mbak Andra    : Makasi ya, Al. Gue ada perlu sama dia soalnya.

 

Duh, kenapa tidak selesaikan dulu ngetiknya baru tekan send? Eh, wait. What? Krisan marah, karena Andra dekat sama cewek lain? Sebenarnya hubungan mereka sekarang seperti apa? Bagaimana bisa aku tidak tahu tentang hal ini. Yang aku tahu memang Krisan sudah tidak berhubungan lagi dengan Andra, karena Ardi pernah memergoki Whatsapp Krisan dengan Andra yang penuh dengan sayang-sayangan. But it was a long time ago. Aku pikir mereka sudah benar-benar selesai.

 

Alya                 : Coba sms atau email aja, Mbak

Mbak Andra    : Di Path dia lagi di mana?

Mbak Andra    : Lo kasih tau gue aja ya, Al

Mbak Andra    : Gue bisa aja Whatsapp dia

Mbak Andra    : Tapi takutnya dia lagi sama cowoknya

Mbak Andra    : Males gue ribut-ribut

Alya                 : Nggak tau, Mbak. Dia sih nggak nge-Path

Mbak Andra    : Cowoknya kan di Thailand

Alya                 : Iya, aku lihat check in-an Path-nya tadi

Mbak Andra    : Dia nggak berani check in

Mbak Andra    : Karena dimarahi sama mamanya

Mbak Andra    : Kalo pergi-pergi

Mbak Andra    : Nomor dia yang belakangnya -73 aktif

Mbak Andra    : Hmmmm

Mbak Andra    : Kabari aja deh, Al

Mbak Andra    : Kalau lo tau di mana

Mbak Andra    : Kalo marah dan ngambek, jelek banget tabiatnya dia

Alya                 : Okay

 

Aku segera mengakhiri chat dengan bosku itu. Yah, namanya juga pegawai. Sudah biasa dapat side job mendengar curhatan bos. Apalagi bosku punya hubungan spesial dengan sahabatku sendiri. Sahabat yang juga aku cintai.

Aku melirik jam dinding, sudah pukul 20.00. Aku harus siap-siap, karena Trisha akan datang menjemputku. Ini adalah kali ke lima aku pergi bersamanya.

Trisha terlihat sangat manis dengan balutan kaos hitam bermotif garis, celana jeans yang tergulung rapi, dan sneakers bermotif yang menarik perhatianku. Obrolanku dengannya mengalir natural, seakan kita sudah kenal lama. Di tengah obrolanku dengannya, Trisha pamit ke toilet. Handphone-nya yang ditinggalkan di atas meja berbunyi, notifikasi tanda pesan masuk pun muncul. Tidak sengaja aku melihat layar handphone dan ada yang menarik perhatianku. Foto Trisha bersama seorang anak kecil yang menjadi wallpaper handphonenya. Trisha sudah punya anak? Ah, mungkin itu keponakannya. Aku juga suka memamerkan foto bersama keponakanku. Aku tidak mau ambil pusing dengan hal itu.

Orang bilang malam Minggu adalah malam yang panjang, tapi untukku dan Trisha malah sebaliknya. Coffee shop tempat kami nge-date akan segera tutup dan kami memutuskan untuk pulang, meskipun sebenarnya kami sama-sama belum mau pulang. Trisha mengajakku jalan-jalan keliling Jakarta. Literally keliling Jakarta. Kami jalan dari Menteng sampai Ancol, melewati Rawamangun, dan berakhir di Gatot Subroto. Selama perjalanan itu, aku dan Trisha berbagi cerita. Mulai dari pekerjaan, masa kuliah, sampai client yang rese. Aku sengaja tidak menceritakan tentang Krisan, karena aku tidak mau Trisha berpikiran macam-macam. Bagaimanapun juga aku benar-benar ingin membuka hati untuknya. Mobil Trisha melaju pelan, meskipun jalanan malam itu sangat kosong. Tanda kalau kami tidak ingin malam ini berakhir.

Saat memasuki komplek rumahku, Trisha tiba-tiba meraih tanganku dan menggenggamnya. Pandangan matanya tetap fokus ke arah jalan, tapi aku menangkap senyum di bibirnya.

Kenapa tidak dari tadi?

Perasaanku campur aduk. Antara senang, deg-degan, dan kesel karena gerak Trisha begitu lama. Ups, yang terakhir itu cuma bercanda kok. Oh, ternyata begini rasanya digenggam oleh perempuan. Feels so right for me.

Sesampainya di depan rumahku, lagi-lagi aku mengalami perang batin. Aku ingin mengajak Trisha mampir, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara dan keberanianku keluar juga.

“Kamu mau mampir, Sha?” Oh, apa jadinya kalau dia menolak? Bagaimana kalau ia berpikir, bahwa aku terlalu agresif?

“Boleh. Beneran nggak apa-apa kalau aku mampir dulu?” jawaban Trisha seperti aba-aba untuk menghela napas yang tanpa kusadari kutahan sejak tadi.

“Nggak apa-apalah.” Aku terdiam lalu entah kesambet apa, aku berani mengeluarkan kalimat selanjutnya. “Nginep aja sekalian.” Kalimat ke dua keluar dari mulutku dengan sangat pelan. Aku tidak yakin apakah Trisha mendengarnya, tapi ah sudahlah. Mampir saja sudah cukup buatku.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Aku dan Trisha memutuskan untuk menonton film koleksiku. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Trisha. Kami menonton ‘Practical Magic,’ film lawas yang dibintangi oleh Sandra Bullock dan Nicole Kidman. Jantungku tidak bisa berdetak secara normal. Pastinya bukan karena filmnya. Aku sudah sering merasakan perasaan ini, tapi hanya kepada Krisan. Kali ini aku merasakannya saat sedang bersama dengan Trisha. Apa aku sudah berhasil membuka hati untuknya? Apa aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya?

Aku seperti hilang kendali atas tubuhku. Tanpa kusadari aku memandangi Trisha dan saat mata kami bertemu, aku tidak berusaha memalingkan pandanganku. Trisha menggeser kepalanya. Bukannya geer, tapi aku tahu yang selanjutnya akan terjadi. Ia akan menciumku. Ya, aku bisa merasakannya, karena aku juga menginginkan hal itu. Namun, aku belum pernah berciuman dengan perempuan sebelumnya. Antisipasi menyelimuti diriku. Senti demi senti jarak antara bibirku dan bibirnya tertutup. Aku bisa mencium wangi parfum Trisha, wangi yang belakangan ini selalu aku rindukan.

Saat bibir lembutnya menyentuh bibirku, aku merasa seperti anak kecil yang diberi es krim. Bibirnya penuh candu. Aku tidak ingin ia berhenti menciumku dan aku berjanji tidak akan berhenti menciumnya. Aku sangat menikmati caranya mengecup bibirku dengan lembut dan sesekali menggigitnya. Kami sudah merasa gerah dan bibir Trisha mulai turun ke leherku, sementara leher adalah bagian paling sensitif untukku. Saat kurasakan bibirnya di leherku, aku tidak bisa lagi mengendalikan diri. Aku biarkan desahan keluar dari mulutku. Ada perasaan asing dari dalam diriku. Aku tidak yakin atas apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi aku juga tidak ingin perasaan ini berhenti.

Setengah mati aku mengumpulkan tenaga untuk menahannya dan dengan napas tersengal aku berhasil bersuara. “Sha, jangan..…” Trisha langsung menghentikan ciumannya dan aku melihat ada yang aneh dari sorot matanya. “Sha, I think I’m in love with you. And I love you more than this.” Aku harus mengatakan ini. Aku mau Trisha tahu perasaanku kepadanya, dan bahwa aku tidak hanya menginkannya secara sexually.

You’re in love with me? Ya ampun, Al. You have no idea how happy I am right now,” jawab Trisha sambil tersenyum. Senyumnya yang manis.

“Iya, Sha. Tapi seperti yang aku bilang, I love you more than this.

And I love you more than this too, Alya. Sorry, I got carried away.

Masih dalam keadaan napas yang tersengal, kami pun tertawa terbahak-bahak. Tidak ada perasaan awkward atas kejadian barusan, hanya perasaan memahami satu sama lain dan rasa nyaman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

 

-citsatig

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.