Love and Acceptance (Chapter 5)

0
248
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Aku dan Trisha masih berada dalam honeymoon phase, di mana kita selalu ingin menghabiskan waktu berdua. Aku bahkan hampir lupa kalau aku pernah memiliki perasaan dengan Krisan. Ngomong-ngomong, ke mana ya dia? Hampir satu bulan belakangan ini aku tidak mendengar kabarnya. Speak of the devil. Baru juga dipikirin, eh masuk notifikasi Whatsapp dari Krisan.

Krisan  : Guess what??? I’m getting married!!

Krisan  : Bantuin nikahan gue ya, Al. Pleaseee.

Bagai disambar petir di siang bolong rasanya membaca pesan dari Krisan. Kenapa begitu tiba-tiba? Kenapa aku tidak tahu tentang hal ini sebelumnya? Perasaanku campur aduk. Kubaca lagi pesan darinya kata demi kata. Pesan yang untuk orang-orang lain pada umumnya adalah pesan bahagia. Banyak yang aku rasakan saat itu, tapi tidak ada rasa bahagia. Well, ada rasa bahagia, tapi..…

Aku tidak tahu harus membalas apa. Bisa saja aku balas aku turut bahagia atau balasan-balasan lain yang pantas digunakan untuk menanggapi pesan seperti itu. Namun, tidak saat ini. Aku masih tidak sanggup.

Melihat sahabatnya bahagia mungkin adalah impian dari semua orang, begitu juga denganku. Aku ingin hidup untuk melihat orang yang kusayangi bahagia. Meskipun sudah bertahun-tahun bersahabat dengannya dan aku sudah memiliki Trisha yang aku tahu sangat mencintaiku, tetapi tetap saja perasaan sedih itu ada. I’m just being a human, yang sedih melihat orang yang pernah dicintai dengan teramat sangat akhirnya akan melepas masa lajang bersama kekasihnya yang sudah dipacari selama tujuh tahun itu. Sempat terbersit di pikiranku, aku yang diam-diam mengharapkan Krisan bisa tetap bersama Trisha, karena paling tidak ia memiliki perasaan yang aku rasakan. Perasaan yang dianggap tabu dan abnormal untuk sebagian besar orang di lingkunganku.

Pikiranku melayang ke tahun 2013, tahun di mana akhirnya Krisan mengakui hubungannya dengan Andra kepadaku.

“Gue sayang sama dia dan gue takut. Harusnya gue nggak boleh punya perasaan seperti ini. Gue bingung, gue nggak ngerti.”

Ingin rasanya aku katakan kalau aku tahu betul apa yang Krisan rasakan. Aku tahu betul ketakutannya, kebingungannya, rasa patah hatinya. Aku tahu betul semua itu. Ada sedikit perasaan lega, karena Krisan akhirnya mau mengakui, tapi lebih banyak rasa sedihnya melihat Krisan seperti orang yang tidak punya arah pada saat itu.

“Sayang, kok bengong aja? Whatsapp dari siapa?” Trisha bertanya sambil memelukkuku dari belakang.

“Dari Krisan. Dia mau nikah dan minta aku untuk bantuin.”

“Iya, Sayang. Kamu bantuinlah. Dia kan sahabat kamu.”

Okay, take a deep breath and be a good best friend.

Alya     : Maaf baru bales, San. Gue baru cek HP. Congrats ya, San. Tanggal berapa nikahannya? Pastilah gue bantuin. Masa gue nggak bantuin nikahan sahabat tersayang gue ini sih. Yuk ketemu.

Pandanganku beralih dari layar handphone ke Trisha yang sedang duduk di meja makan sambil bekerja. Ia sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Terkadang aku lupa bersyukur kalau aku sudah punya Trisha yang mencintaiku dan membuatku bahagia saat bersamanya. Aku tidak mau perasaanku yang tidak berbalas terhadap Krisan membuatku lupa akan pasangan di depanku.

Malamnya aku berjanji akan menemui Krisan untuk membahas tentang persiapan pernikahannya. Aku juga akan menyampaikan sesuatu hal kepada Krisan. Hal-hal yang aku simpan rapat-rapat darinya, bahwa aku tahu hubungannya dengan Andra belum berakhir, bahwa aku pernah amat sangat mencintainya, dan bahwa aku sudah bahagia bersama Trisha sekarang.

-citsatig

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.