Love and Acceptance (Chapter 6 – Finale)

0
182
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Jadi lo mau nikahan yang kayak gimana? Indoor atau garden party?”

“Sabar kek. Baru juga kita duduk, lo udah nanya panjang lebar.” Krisan duduk di depanku dan langsung mematikan rokok yang baru saja aku nyalakan. Ia memang seperti itu. Tidak suka dengan asap rokok, padahal sahabatnya ini adalah seorang perokok aktif. “Sebelum kita bahas wedding gue, ada yang mau gue omongin sama lo, Al.”

Wah, Krisan mau ngomong apa? Sepertinya aku kecolongan start. “Ngomong apa, San?”

Aku berusaha tenang, walaupun otak dan hatiku penuh dengan antisipasi. Apa Krisan tahu aku seorang lesbian? Apa Krisan tahu aku pernah mencintainya? Seharusnya aku tidak perlu gelisah, toh memang itu yang akan aku bagi dengannya.

“Beberapa bulan ini gue masih ketemu dengan Mbak Andra. Cukup sering frekuensinya.”

“Untuk apa lo ketemu sama dia lagi?”

“Awalnya masalah kerjaan. Dia lagi banyak event yang butuh MC, tapi lama kelamaan jadi hampir balik kayak dulu.”

“Balik kayak du…”

“Biar gue selesein dulu omongan gue ya, Al. Karena gue harus mengumpulkan keberanian gue buat ngomong sama lo dan gue takut itu akan hilang.” Aku menghela napas sambil mengangguk. “Saat gue bilang sudah nggak berhubungan dengan Mbak Andra, gue bohong. Gue nggak berani bilang sama lo, karena dulu kita pernah berantem hebat tentang ini dan gue nggak mau keulang lagi. Sebulan belakangan ini intensitas gue ketemu Mbak Andra makin tinggi. Gue takut ketahuan sama lo, makanya gue menghindar dari lo.” Saat Krisan diam, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Gue udah boleh ngomong?” Krisan mengangguk. “Gue sebenarnya tahu lo masih berhubungan sama Mbak Andra. Dari sejak lo pergi ke Singapore terus ke Thailand sama Ardi. Mbak Andra sempat nanyain lo ke gue, tapi gue bilang gue nggak tahu dan lo nggak ngabarin gue.” Krisan tampaknya cukup terkejut dengan kata-kataku.

“Jadi lo udah tahu tentang hal ini dari lama, Al?”

“Iya. Gue nggak konfirmasi ke lo, karena alasan yang sama dengan yang lo bilang tadi. Gue selama ini nunggu lo ngomong sama gue aja, dan hari ini memang gue sudah niat buat bilang ini sama lo.” Kalimatku terhenti. Aku harus menarik napas dan sangat berhati-hati mengeluarkan kalimat selanjutnya.

“San, lo akan menikah sama Ardi. Ardi yang cinta banget sama lo. Gue harap lo bisa tinggalin Andra setelah lo menikah nanti dan gue nggak mau dengar lagi cerita apapun tentang lo dan Andra, karena lo akan menjadi istri sah Ardi. Nggak adil buat Ardi, San.” Krisan hanya diam, tidak berani menatap mataku. Tatapan matanya tertuju ke gelas berisi green tea latte yang sudah hampir habis.

“Dan ada hal lain yang mau gue omongin sama lo.” Aku berusaha menarik perhatian Krisan supaya aku cukup mengatakannya satu kali. Saat Krisan menatap mataku lekat-lekat, aku jadi salah tingkah dan nyaliku sempat ciut, tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi? “Sejujurnya, saat pertama kali lo mengenalkan gue dengan Andra, gue sudah merasa ada yang lain dari hubungan kalian. Nggak mungkin hubungan kalian hanya sebatas kerjaan. Cara kalian menatap satu sama lain, gesture kalian. Gue tahu ada yang lebih dari itu.”

Reaksi Krisan berikutnya benar-benar di luar dugaanku. Ia tertawa terbahak-bahak. “Dari mana lo tahu, Al? Sotoy lo ah.”

Untuk sesaat keadaan berubah menjadi awkward. Entah Krisan yang memang sengaja menghindar dari pernyataanku atau ada hal lain. Entahlah. Lagi-lagi aku harus memberanikan diri menyelesaikan kalimatku. Semua harus selesai hari ini.

“San, gue tahu, karena cara Andra menatap lo sama seperti cara gue menatap lo. Gue kenal tatapan itu, San. Gue kenal tatapan seseorang yang sedang bicara dengan orang yang sangat dia saying.”

Mendengar pernyataanku, Krisan tersentak. Raut wajahnya tak bisa kubaca. Aku panik. Apa seharusnya aku tidak bicara seperti ini?

“Hah? Gimana, Al? Gue nggak ngerti maksud lo.”

“San, please. Gue tahu lo ngerti maksud gue. Lo nggak salah denger. Jangan paksa gue mengulangi kalimat gue tadi. Untuk akhirnya bisa ngomong sama lo aja gue harus ngumpulin keberanian selama tujuh hari tujuh malam,” jawabku sambil tertawa garing. Aku berusaha semampuku untuk mencairkan suasana, meskipun aku tahu itu tidak ada gunanya.

“Gue nggak tahu harus ngomong apa, Al.” Krisan menundukkan kepala, tidak berani menatap mataku.

“Nggak perlu ngomong apa-apa kok, San. Gue cuma mau lo tau aja, biar gue lega, karena gue nyimpen sendiri hal ini selama bertahun-tahun.”

“Dari kapan, Al?” Krisan bertanya padaku sambil tetap menundukkan kepala, suaranya nyaris tidak dapat kudengar.

“Gue nggak tahu tepatnya, yang pasti sejak kita kost bareng gue udah merasa lain sama lo. Tapi karena gue tahu lo nggak punya perasaan yang sama seperti gue, makanya gue simpen sendiri.”

Ada keheningan yang membuatku tidak nyaman. Kepala Krisan tetap tertunduk, tidak berani menatap mataku. Aku pun mengalihkan pandangan. Tidak sanggup melihat reaksi Krisan. Malam ini seharusnya menjadi pertemuan yang membahagiakan, karena kami akan membahas pernikahan Krisan. Penyesalan datang memenuhi hatiku.

Keheningan selama lima menit yang terasa seperti satu jam. Saat aku mencoba memberanikan diri memecah sunyi, Krisan mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mataku. Ada air mata di ujung matanya. Tidak menetes, tetapi cukup jelas terlihat olehku.

“Jatuh cinta sama sahabat sendiri kedengerannya konyol ya, Al. Apalagi sahabat lo sama-sama perempuan.” Kali ini aku yang terkejut. Terlalu banyak sport jantung dalam satu hari. Apa maksud Krisan? Perasaanku bukanlah perasaan yang konyol. Aku mencintai sahabatku dengan tulus. “Gue nggak nyangka lo punya perasaan yang sama, Al. Lo adalah manusia pertama yang paling nggak bisa gue baca. Gue nggak pernah bisa tahu perasaan lo, atau memang gue yang kelewat nggak peka mengabaikan semua tanda yang udah ada di depan mata.” Krisan menarik napas dan terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Sedangkan aku? Aku hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Takut salah mengartikan kata demi kata yang keluar dari mulut Krisan.

“Dari sejak pertama kali lo menjauh saat gue pacaran sama Ardi, gue bisa ngerasain ada yang beda dari lo, tapi gue terlalu takut sama kenyataan dan gue memilih untuk mengabaikan. Gue takut salah, gue nggak berani gambling. Padahal kalo saat itu gue tanya langsung sama lo, kita bisa pacaran kali ya?” Lanjut Krisan sambil tertawa kecil.

Aku juga tidak bisa menahan tawa. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Perasaan menyesal, karena sebenarnya bisa saja aku dan Krisan pacaran. Impianku bisa menjadi kenyataan. Di sisi lain ada rasa lega, karena akhirnya aku tidak perlu lagi menutupi hal ini dari sahabatku.

Kemudian rasa penasaranku muncul. “Terus kenapa lo bisa deket sama Andra, San? Kalau memang lo juga ada perasaan sama gue saat itu, kenapa lo nggak deketin gue?” tanyaku bernada menggoda.

Krisan tertawa lagi. “Gue nggak berani, Al. Kalo Andra kan hitungannya orang lain buat gue. Dapet syukur, nggak dapet ya udah. Tapi kalo lo? Dapet syukur, nggak dapet gue mewek kayaknya deh. Makanya gue bilang gue nggak mau gambling. Gue ambil aja kesempatan buat tetep jadi sahabat lo.”

Aku cukup puas menerima jawaban Krisan. Namun, ada perasaan aneh yang mengganjal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku memilih untuk mengabaikan perasaanku dan bersikap sewajar mungkin. Ini adalah suatu pencapaian untukku, karena sudah berani mengatakan apa yang aku pendam selama bertahun-tahun.

Di tengah obrolanku dengan Krisan, handphoneku berbunyi. Aku melihat nama Trisha di caller id handphone. Trisha memberi tahu kalau sudah sampai di Setiabudi Building, tempatku dan Krisan bertemu. Malam ini aku akan mengenalkan Trisha kepada Krisan. Mengenalkan Trisha sebagai pacarku dan bukan lagi sebagai teman kerja.

“Oh iya, San. Kalo pacar gue gabung bareng kita, nggak apa-apa kan?”

Krisan tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Pacar?  Sejak kapan lo punya pacar? Kok bisa-bisanya gue nggak tau?”

“Ya lo sibuk banget sih sampai susah ditemuin. Gimana gue mau ngenalin?”

Krisan membuka mulutnya untuk protes, tetapi langsung menutupnya kembali saat melihat Trisha memasuki Anomali.

“Itu bukannya temen lo, Al? Trisha ya kalo nggak salah namanya?”

Aku menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Trisha berjalan menghampiri meja kami.

“San, kenalin ini Trisha. Pacar gue.” Wow, it feels good to say it out loud. Setelah mendapat persetujuan dari Trisha tentang keinginanku mengenalkan dia sebagai pacarku kepada Krisan, aku langsung meminta Trisha untuk menyusulku ke Anomali.

“Lho, kita kan udah pernah ketemu ya? Ternyata elo toh.”

Aku dan Trisha saling melempar senyum. Senyum canggung, karena ini adalah pertama kalinya aku open ke orang lain tentang diriku yang sebenarnya. Aku dan Trisha sama-sama discreet. Kami tidak mau ada orang lain yang tahu tentang hubungan kami ataupun preferensi seksual kami. Namun, aku ingin membuat pengecualian kepada Krisan. Mengingat ia adalah sahabatku dan iia juga sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan perempuan.

Trisha banyak memberi masukan kepadaku terhadap keinginanku coming out kepada Krisan. Ia memberikan pandangan dari berbagai sudut, memberikan kemungkinan-kemungkinan konsekuensi yang akan aku terima. Mungkin saja Krisan akan menjauhi aku atau sebaliknya, akan support aku. Keputusan ini aku ambil bukannya tanpa pertimbangan. Aku sudah memikirkan matang-matang dan sudah siap menerima apapun konsekuensinya.

“Kalian ini ya. Berarti waktu gue nyamperin ke Gancit itu kalian lagi nge-date ya? Gue jadi nyamuk dong?”

Aku dan Trisha tertawa. “Tapi kan lo nggak sadar kalo jadi nyamuk. Jadi ya udahlah ya.”

Malam itu aku habiskan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Krisan. Pertanyaan seperti: “Siapa yang nembak duluan?” “Pertama kali kissing gimana?” dan masih banyak lagi. Sebagai sahabat yang baik, aku menjawab satu demi satu pertanyaannya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.