Ada Apa dengan Twitterland?

4
362
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Iya, ada apa dengan Twitter?

Okay, kenapa Twitter? Karena bagiku ini semacam negeri tak bernama. Lembah tak bertuan. Aku tak perlu tahu siapa namamu, tinggal di mana, sudah punya pacar berapa, selingkuhannya siapa atau umurmu sisa berapa. Ehm, oke itu keterlaluan, hehehe…

Jadi ini semacam negeri dengan seribu mata tanpa ada tendensi untuk saling mencela. Hanya saling bersapa ringan, padahal di negeri bernama tak saling kenal, bahkan tak saling berbagi senyuman. Bukan, akun Twitter-ku bukan akun alter. Aku tidak punya akun alter. Dulu pakai nama asli, sekarang sih enggak berani. Hahaha sama saja ya berarti? Yowes jangan emosi gitu dong *winkwink*

Dulunya Twitter-ku dipenuhi oleh mereka yang aku anggap kenal di negeri bernama. Namun lama-lama ketidaksanggupanku mengontrol twit mana yang harus kubagi di negeri bernama dengan twit mana yang harus aku draft untuk diriku sendiri membuatku harus membuang jauh akun-akun itu dan lebih memilih untuk berteman dengan mereka yang tak berwajah, tak tampak, tapi dari tulisannya sudah cukup menandakan bahwa mereka ada. Setidaknya mereka hidup di dunia mereka. Entah di dimensi yang ke berapa dan di paralel yang mana. Setidaknya sudah pernah ngetwit, punya hape, berarti punya tangan dong? Berarti manusia. Kalau enggak, demi Tuhan aku bersyukur kita cuma saling kenal di negeri tak bernama ini.

Btw, pernah merasa lucu bahkan kadang miris nggak sih, karena ada masa di mana kita lebih mudah terbuka pada orang asing di negeri tak bernama daripada mereka yang berada di samping kita? Sederhananya karena, kadang, yang kita butuhkan cukup telinga yang mendengar, dan bukannya mulut yang melempar tanya. Karena di negeri tak bernama, kita didengarkan karena mereka ingin mendengar, bukan karena mereka “harus” mendengarkan. Pernah? Atau ini cuma aku dan perasaanku yang lebay ini saja? Tidak? Lalu kenapa kalian masih lanjut baca tulisan ini kalau nggak pernah? *penulis ngambek, mojok sambil tetep nulis*

Okay, aku kembali. Ngambek dicuekin dan nggak ngambek pun tetap dicuekin, jadi ya sudahlah, buang ego, buang rasa kenarsisan bahwa kalian mengerti dan peduli. Oh, berpura-pura sajalah kalau kalian peduli! Aku sudah pernah dipura-purai oleh hati yang aku sungguhi, jadi kepura-puraan kalian tak seberapalah. Ini serius, apaan sih?

Intinya di Twitterland alias negeri tak bernama, kamu layaknya pengelana asing yang saling tak menyapa, kadang menyapa dan flirting juga sih, hehehe.. Tapi bisa saling memberikan perasaan yang sama bahwa terkadang kalian juga pernah galau karena ditinggal pacar yang jatuh hati sama yang baru, sedih karena di-PHP, padahal mah dianya biasa, kamunya saja yang geernya sudah mau stadium lanjut, atau jatuh cinta pada mereka yang tidak bisa jatuh cinta balik ke kita.

Iya, sama, yang lain juga banyak yang merasa begitu. Bahwa kalian bahagia dengan pasangan kalian, mesra di dunia peralteran pertwitan begitu juga pasangan lain. Bahwa kalian sakit, dan masih bisa ngetwit walau yang dikodein nggak ngerti. I know, I feel you. I know, you feel me too. We feel-feel-an to each other. No touch-touch-an.

Ngg…Sounds iyuh, ya. Oke, abaikan kalimat terakhir. Bukannya terdengar seperti dua orang yang saling bersimpati malah seperti dua orang yang saling berbagi…itulah. Ya itu. Udah ah.

Ya, pokoknya tidak saling mengenal tapi saling berbagi rasa simpati yang sama. Bukan seperti negeri bernama di seberang sana yang sukanya berbagi khotbah caci maki sana sini padahal kenal juga sebatas nama atau masa lalu. Eh, sensi amat ya sama negeri seberang sana. Karena di negeri bernama, aku biasanya dilabeli dengan masa lalu menempel di jidat.

Sedangkan di negeri tak bernama, aku hanya sebatas pengelana asing dengan segala tiada yang perlu dicela. Kalau pun mesti dicela, kau siapa? Dan tahu apa kau tentangku hanya dari twit yang kubagi denganmu? Itu tadi bacanya pakai logat batak, ya biar aku keliatan agak sedikit menakutkan, hahaha! Yah, walau aslinya lemah tak berdaya karena ditinggal pergi sang pujaan jiwa (please, kill me now!)

Yah, seperti itulah. Kenapa Twitter? Karena ini negeri dengan segala tak berupa tapi ada yang tiada. Kau bisa jadi dirimu sendiri di sini. Tak perlu takut terluka dengan opini mereka. Toh, mereka hanya menikmati twit tak pentingmu itu. Kalau pun merasa terganggu tinggal pencet unfollow, lalu berakhirlah kisahmu di linimasa mereka. Semudah itu. Karena di negeri tak bernama, kau tak perlu singgah hanya untuk menjadi bernama. Di sini kau tak ada, namun selalu ada sepasang mata yang mungkin diam-diam mengamatimu. Dalam diam kepedulian mereka yang asing di negeri bernama.

Karena di negeri tak bernama, kau ada menjadi apa yang tak bisa kau jadikan nyata di sana. Setidaknya bagiku begitu. Dan yah, aku juga memang lebih suka berbagi cerita pada pengelana asing daripada sedikit mereka yang ada di negeri asalku.

Bagaimana denganmu? Tidak hanya menjadikan negeri bernama ini sebagai lorong waktu untuk lari dari duniamu di luar sana, bahkan untuk mencari pacar, kan? Kalau iya, baguuus. Aku dukung. Hahaha!

Bercanda. Iya, aku serius bercanda. Aku bukan suporter sejati si pencari pasangan di negeri tak bernama. Ya, salahkan aku jika pernyataanku menyakitimu dan tak sesuai denganmu. Bagiku, mencari pasangan di negeri tak bernama sama saja dengan kau pergi ke klub malam untuk mencari jodoh. Oke, marahlah, tapi aku benar-benar tidak berpengalaman di sana jadi aku tidak tahu. Ini murni pendapatku yang tak berpengalaman ini. Tapi bisa jadi ke depannya aku harus menelan keangkuhan pernyataanku barusan, karena jatuh cinta di negeri tak bernama pada dia yang tak berwajah dan tak ada barcode masa lalu dijidatnya. Bisa saja. Siapa tahu.

Aku sendiri tak punya aplikasi pencari jodoh yang terkenal banyak dipakai orang itu. Bohong sih, aku punya dua. Dulu, hahahaha! Itu pun cuma satu karena si cewek imut di kantor lama yang sengaja install di hapeku. Satunya lagi, purely curiosity. Nggak lebih. Lalu akhirnya aku hapus. Menuhin memori hape yang tak seberapa ini. Pedih, iya pedih hapenya memorinya yang paling kecil. Ini lagi bahas hape apa hati? Sama sih, sama-sama dicariin kalau lagi sendiri, huahahaha!

Apapun itu, pendapat tidak pentingku barusan, selamat berkelana di negeri tak bernama. Semoga kelak bisa saling menyapa di negeri bernama hingga bahkan berbagi rasa yang nyata untuk bisa dipertahankan bersama 🙂

(Chase)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

4 COMMENTS

  1. Hey there just wanted to give you a brief heads up and let you know a few of the images aren’t loading properly. I’m not sure why but I think its a linking issue. I’ve tried it in two different internet browsers and both show the same outcome.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here