Don’t Be So Hard on Yourself

3
301
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

I came here with a broken heart that no one else could see
I drew a smile on my face to paper over me
But wounds heal and tears dry and cracks they don’t show
So don’t be so hard on yourself, no…

Lagu itu mengalun sayup-sayup dari iPhone-ku. Jemariku reda sejenak mengetik setumpuk pekerjaan yang tak kunjung usai. Di luar kantor gerimis sayup terdengar. Ingatanku melambung pada kejadian beberapa bulan lalu.

Beberapa kali jatuh hati dan patah hati tak pernah membuatku makin dewasa dan memahami cinta. Cinta selalu abstrak, tak bisa ditebak. Pun pada kisah cinta yang terakhir kujalani. Pacar-pacarku sebelumnya beragam, mulai dari bi, straight, hingga lesbian.

Aku bertemu dengannya pada suatu sore di sebuah kedai kopi ternama di Jakarta Selatan. Matanya sendu, tatapannya teduh. Ia sedang bersama teman-temannya saat itu. Aku hanya melihatnya sekilas tertawa, tak lebih dari 5 detik, namun langsung membuatku jatuh cinta, pada pandangan pertama. Terdengar drama memang, tapi itulah. Dan berbekal ide karena keseringan nonton film series barat, aku membuntutinya ke kamar mandi. Pura-pura berebut wastafel, berujung mendapatkan nomor teleponnya.

Kami tak bertukar pesan apapun hingga seminggu setelahnya. Tapi Tuhan selalu punya cara mempertemukan dua insan. Kita menyebutkan ‘kebetulan’, padahal itu adalah sebuah jalan yang sudah ditakdirkan. Dan kami bertemu kembali di kedai kopi itu seminggu kemudian, kali ini sama-sama sendiri. Sebut saja namanya Jingga.

Pertemuan itu mengantarkan aku dan Jingga ke pertemuan-pertemuan lain, sebagai teman. Kami banyak berdiskusi, menonton film dan pergi ke konser-konser bersama. Kami tertawa, berbagi cerita dan rahasia, berbagi satu kasur berdua, namun tak pernah terjadi apa-apa. Karena aku (diam-diam) mencintainya dan menghormatinya. Karena (hati) dia belum berpindah dari orang sebelumnya.

Aku bisa merasakan saat-saat kami berdua, namun pikirannya sedang tak di sana. Aku memakluminya. Aku mencintainya apa adanya. Hingga suatu hari aku pindah ke sebuah apartemen dua kamar. Kebetulan kontrakan Jingga akan habis bulan depan. Ia enggan meneruskan dan ingin pindah, maka kutawarkan saja untuk tinggal bersamaku. Lumayan, Ia bisa membayar bulanan lebih murah kepadaku yang uangnya nanti bisa kugunakan untuk membayar air dan listrik apartemen.

Tidak ada yang spesial selama tinggal berdua dengannya. Kami tidur di kamar masing-masing. Kerja di kantor dan bidang yang berbeda. Tiap weekend kami jalan-jalan berdua. Hingga suatu malam aku menegak cukup banyak alkohol dan mengungkapkan perasaanku padanya. Ia hanya diam, masih bisa kulihat ia menuntunku ke kamar, menyelimutiku, lalu keluar.

Beberapa hari setelahnya, ia bilang menemukan kontrakan baru dan berniat pindah. Aku yakin ini ada hubungannya dengan pernyataanku malam itu. Aku meminta maaf padanya. Yang kusadari, tak seharusnya kulakukan. Cinta itu alamiah dan tak perlu minta maaf jika kita merasakannya, selama kita tak merugikan pihak-pihak lain.

Ia bilang, ia memaafkan. Namun ia tetap pergi.

Setelahnya, kami jarang berkomunikasi. Hingga suatu hari kutemukan ia duduk di depan pintu apartemenku. Padahal ia masih membawa kuncinya. Aku menuntunnya masuk. Ia tampak berantakan, pasti baru pulang minum dengan teman-temannya. Kami bertengkar malam itu, aku menyalahkan dirinya yang tak bisa beranjak dari masa lalunya, ia mati-matian membela masa lalunya. Hingga kami kelelahan, ia tertidur di sofa ruang tamuku. Aku tidur di lantai di bawahnya, memastikan ia tak terjatuh.

Aku merasakan kecupannya di pipiku pagi itu, kemudian suara pintu depan terbuka dan tertutup. Ketika membuka mata kudapati ia sudah pergi. Lalu ia hilang lagi, tak menjawab ketika kuhubungi. Begitu seterusnya, hingga enam bulan kami melakukan rutinitas serupa. Bertengkar, baikan, hilang, saling menemukan, terus berputar seperti itu. Dan tetap sama, aku mencintainya. Ia mencintai masa lalunya. Di sela-sela itu, kami terluka.

Pernahkah kamu, terlanjur jatuh cinta, bertahan, berjuang, enggan beranjak karena malas memulai dengan yang baru lagi dari nol sementara sudah merasa cinta dan yakin bisa mengubah pandangan orang yang kita cintai? Jika iya, pikirkan ulang.

Kejarlah orang yang ketika melihat kita terengah berlari, ia berhenti karena menghargai.

Berjuanglah untuk orang yang melihat kita berusaha membahagiakan masa depannya, ia turut berusaha berbahagia dengan sedikit-sedkit memangkas masa lalunya.

Maka aku memutuskan berhenti. Aku menghilang darinya. Aku pulang ke rumah orangtuaku dua bulan lebih berdiam di sana. Aku mencoba menghargai diri sendiri. Membahagiakan diri sendiri sebelum membahagiakan orang lain. Membahagiakan kedua orangtuaku (yang tahu anaknya gay namun tetap mencintai tanpa akhir). Jangan terlalu keras dan merendahkan dirimu sendiri demi mengejar cinta orang yang tidak mencintaimu. Ingat, jika dia mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu kesakitan (apalagi sendirian).

Apakah kisah kami berakhir?

Tidak.

Ia melihatku berhenti berlari. Panik. Kemudian berjalan mundur mencariku. Dalam usahanya mencariku, ia belajar mengikis masa lalunya, sesuatu yang tak ia lakukan saat aku masih disampingnya.

Kemudian kami bertemu (tanpa sengaja) di kedai kopi yang sama, beberapa bulan setelahnya.

Ia bersama seorang perempuan di sana. Kakaknya.

Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku. Mata kami berbicara tanpa suara. Ia menggandengku ke arah kakaknya dan memperkenalkanku sebagai kekasihnya. Kakaknya terkejut setengah mati. Ia tak pernah diizinkan pulang lagi, namun ia selalu datang untuk menemui ibunya setahun dua kali, bersamaku tentu saja, tanpa sepengetahuan kakaknya.

Apakah kisah kami berakhir bahagia? Belum. Ini justru permulaan. Apalagi belakangan di Indonesia semakin keras penolakan dan kekerasan terhadap kaum minoritas. Sekarang kami berdua akan menhadapi ujian yang lebih tinggi. Jika dulu kami saling menghadapi perasaan kami masing-masing. Kini kami akan menghadapi dunia, berdua.

Tapi ingat, semua orang pernah jatuh dan terluka. Pernah ditinggalkan dan disia-siakan. Namun yang tetap berjuang dan memilihmu meski tahu akan menghadapi kesulitan, adalah yang pantas diserahi jiwa (dan raga tentunya, hahaha…)

Satu kuncinya, jangan terlalu jahat pada diri sendiri. Biarkan dia bahagia. Biarkan dia dibahagiakan. Calm down.

Don’t be so hard on yourself. And please, don’t be afraid to fall in love again 🙂

(#MissGrey)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

3 COMMENTS

  1. Hi, I do believe this is an excellent web site. I stumbledupon it 😉 I may come back yet again since i have saved as a favorite it. Money and freedom is the best way to change, may you be rich and continue to guide others.

  2. Greetings! I’ve been following your site for some time now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Lubbock Texas! Just wanted to say keep up the good job!

  3. Heya just wanted to give you a quick heads up and let you know a few of the images aren’t loading correctly. I’m not sure why but I think its a linking issue. I’ve tried it in two different browsers and both show the same outcome.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here