If I Should Trade My Life for Someone

0
226
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

If I should trade my life for someone, that would be my Mom.

Saya biasanya tak suka bawa barang terlalu banyak saat traveling seperti mudik kemarin Idul Adha. Saya tahu Mama sudah sangat repot, jadi biasanya saya bilang Mama nggak usah repot bawain atau masakin saya untuk perjalanan balik ke Surabaya. Tapi kan karena kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, dia selalu kekeuh buat sempetin masak, apalagi anak sulungnya ini nggak doyan daging sapi atau daging kambing. Sambil berurai air mata dia bilang, “Mama, Papa, dan adek-adekmu di sini sudah ada banyak makanan. Kamu tuh jauh, jarang pulang, di sana nggak ada makanan… Kamu bawalah masakan Mama ini buat di jalan.”

Biasanya kalau udah begitu, saya langsung luluh. Ya sudah, saya akan bawa apa pun yang sudah Mama siapkan. Paling nggak bisa kalau harus melawan air mata Mama.

Ingatan saya kembali pada beberapa tahun lalu ketika saya pertama kali menetap di Surabaya karena pekerjaan. Itu adalah tahun-tahun awal saya mulai menerima diri saya sebagai biseksual atau saya mungkin benar-benar lesbian. Saya tahu sih ada sesuatu yang berbeda dengan saya sejak SD. Saat itu saya sangat posesif terhadap teman dekat saya seorang perempuan. Saya bisa sangat cemburu kalau dia bermain dengan teman lainnya. Atau ketika saya SMP, saya naksir ketua OSIS saya yang ternyata perempuan. Saya suka deg-degan tiap kali ketemu dia, dan tiap hari saya berpikir bagaimana caranya bertemu dia tanpa keliatan banget saya kalau saya stalking. Tapi saya pikir itu bukan hal yang spesial dan bahwa setiap orang juga memiliki perasaan yang sama. I was in denial. Until one day few years ago, I wish to have an exclusive and intimate relationship with a girl.

So maybe I am a lesbian or I am a bisexual. Don’t get me wrong, I am not conflicted between these two. I have been in relationship with few guys too. And one of them was a very long one. I just don’t want to define myself as any of it. Love just happens to everyone.

Oke, kembali pada cerita saya dan Mama. Sekali waktu Mama berkunjung selama beberapa hari. Waktu itu sedang heboh kasus Ryan Penjagal dari Jombang yang ternyata adalah gay. Semua orang mengutuk kejadian ini, termasuk Mama. Suatu sore, kami berdua sedang melihat tayangan TV yang fokus pada pembahasan tentang LGBT. Sudah saya duga, isinya bersifat negative judgment terhadap LGBT.

“Ya harusnya dihukum penjara ajalah, itu kan dosa dan juga penyakit buat yang lain,” begitu komentar Mama.

It hurts to know my Mom saying that.

“Mama nggak boleh ngomong begitu. Gimana kalo aku ini, anak Mama, lesbi?!” ujar saya sedikit emosi.

Mama tertegun dan memandang saya. This is it! This is the moment I have been waiting for to spill everything about myself. I was seconds away to achieve my glory and in my mind, me and my Mom were raising glass to cheer… here is to the new lesbian on the block! *clap*

That’s not gonna happen. Yang akan terjadi adalah Mama bakalan nangis nggak berhenti memohon saya untuk berkata bahwa itu tidak benar. Atau Mama akan mengajak saya ke Ustadz di kampung untuk merukiyah agar saya kembali ke jalan yang benar. Mama bukan terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Dia juga bukan wanita urban yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk isu sepelik ini. Masa kecil sampai dewasa dihabiskan di rumah neneknya dan di masjid di kampung Mama. Masalah ranjang adalah masalah yang sangat tabu untuk dibicarakan. Yang dia tahu, homoseksual adalah dosa yang sangat besar dan akan mendapatkan azab neraka yang teramat pedih. She has been taught of that her whole life and I couldn’t blame her.

Of course I was right if I tell her all about myself as bisexual because that is just who I am. But then what? I will lose that smile forever. Mama mungkin akan menerima kondisi saya. Namun dia akan menghabiskan waktu setiap harinya untuk mengkhawatirkan saya. We all know, living a different life than other people in general will make your life a lot harder. Belum lagi Mama juga akan mengkhawatirkan saya akan terpanggang neraka sedangkan salah satu mimpi besarnya adalah berkumpul bersama keluarga di surga setelah kiamat. Laugh all you want, but trust me I sometimes question that too. Ironically, that is what most people think about LGBT people.

Kemudian Mama mulai menangis. Saya pun mengurungkan niat saya untuk coming out.

“Ma, kan aku bilang ‘kalau’. Mama nggak usah nangis. Nggak apa-apa kok,” kata saya menenangkan Mama. Lalu aku peluk Mama dengan erat.

Saya tahu saya akan sangat lelah karena saya harus menyembunyikan banyak hal kepada Mama termasuk kehidupan saya. But I am willing to take that price for her smile. Dan seperti kata salah satu sahabat saya, “You don’t have to be right, you just have to be kind to your parents.”

I love you, Mama.

(@tempejunkie)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here