LIFE OF A BI 2 (PART 18) – FINALE

0
307
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Maafkan aku yang membiarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin
Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin terus bersama

Seketika lagu yang sudah cukup lama tak terdengar itu malah terdengar lagi di radio di perjalananku menuju kantor. Aku kemudian mencari channel lain, namun malah terdengar lagu lain yang cukup menyayat hati.

Jika harus berpisah, ya sudahlah
Jika harus menangis, menangislah
Tuhan tahu kisah kita
Hubungan ini berat untuk bersama
Semua tahu, aku dan kamu mustahil ‘tuk bersama

Aku tak tahu lagu siapa itu tapi sepertinya potongan lagu itu sangat menggambarkan perasaan dan kisahku saat ini. Aku buru-buru mengganti channel radionya lagi.

Dan aku tak punya hati
Untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati ‘tuk mencintai
Dirimu yang selalu mencintai diriku
Walau kau tahu diriku masih bersamanya

Entah mengapa pagi itu semua channel di radio sepertinya kompak memutarkan ‘soundtrack’ untuk hidupku yang drama. Seketika tangisku pecah. Aku menepikan mobilku dan menangis sekencang-kencangnya. Pagi itu aku menyerah, aku menelepon Russell dan menceritakan betapa berengseknya stasiun radio pagi itu. Russell kembali menenangkanku.

Russell masih selalu ada untukku di sana. Dia selalu membuka pintunya untukku, kapan pun aku membutuhkannya. Namun tak bisa kupungkiri, sudah mulai terasa ada tembok yang dia bangun disana. Entah sudah berapa lama aku tak mendengar kata sayang dan rindu darinya. Dia seperti menahan semuanya, membatasi perasaannya.

Semuanya semakin terasa aneh. Russell masih ada untukku, tapi dia sedang berusaha menggeser perannya. Bukan seperti dulu lagi. Ya, aku tahu. Ini semua permintaanku, atas dasar keputusanku yang memilih meninggalkannya. Tapi ketahuilah itu semua aku lakukan bukan karena aku tidak mencintainya lagi, bahkan ini karena aku terlalu mencintainya. Aku tak mau dia semakin lama terjebak dalam cintaku yang tak bisa seutuhnya menjadi miliknya.

Semua proses penurunan status, dari kekasih menjadi teman ini sungguh menyiksaku. Ini mulai menjadi rumit dan berat. Apalagi aku tak punya teman untuk bercerita. Aku berusaha untuk kuat dan melupakan kesakitan ini. Aku berusaha baik-baik saja meskipun di balik semua itu aku mencari teman yang bisa mengerti keadaanku sekarang karena aku tak sanggup memendamnya sendiri.

Aku melanggar peraturan Russell dan aku akhirnya menemui orang dari akun alterku di Twitter. Mau bagaimana lagi, aku tidak punya tempat untuk bercerita. Kepalaku seperti akan meledak rasanya karena aku berusaha keras meredamnya sendiri. Untungnya kedua temanku sangat terbuka dan selalu ada saat kegalauanku kumat.

Sampai detik ini aku masih belum bisa untuk kuat menjalani hidup tanpa Russell, tapi aku masih berusaha. Aku tahu dia juga sedang berjuang untuk kuat.

Menghilangkan hal yang sudah biasa dilakukan adalah perjuangan yang paling berat dalam sebuah hubungan. Menurunkan kadar sayang dari pacar menjadi teman adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Menghilangkan sisa-sisa perasaan memiliki, masih ingin posesif, masih ingin bertanya sedang apa, di mana, dan masih ingin melarang untuk tidak begini dan begitu juga terasa sangat tidak mudah.

Mungkin ini yang dinamakan bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Sebelumnya aku anggap ungkapan itu adalah bullshit belaka, karena aku beranggapan bila cinta, ya harus memiliki. Namun dari kehilangan Russell kali ini, aku belajar bahwa memang ada cinta yang tanpa memiliki. Tanpa aku memilikinya pun, aku tahu dia masih mencintaiku. Aku tahu kami masih saling memperhatikan meskipun dalam diam. Aku tahu kami masih merindukan satu sama lain meskipun kami tak mengungkapkan.

Russell selalu berkata padaku, dia selalu terbuka untukku. Kapan pun aku perlu, maka hubungi dia saja. Namun satu hal yang membuatku berhenti untuk menghubunginya lagi, yaitu karena dia tak pernah menghubungiku duluan. Dia bilang, dia ingin mengabulkan permintaanku untuk benar-benar pergi darinya. Dia tak ingin memberatkanku pergi. Maka dia memutuskan untuk tidak pernah menghubungiku lagi, kecuali aku yang menghubunginya.

Aku tak mau jadi seegois itu. Jika Russell berpikiran seperti itu maka aku pun harus demikian. Aku tak mau lagi mengganggunya dengan cerita sedih dan betapa beratnya aku menjalani hidup tanpanya. Aku juga ingin dia tenang tanpa terganggu aku lagi. Aku juga ingin tak memberatkannya lagi dengan segala kegalauanku. Aku juga ingin dia bahagia, meskipun tanpa aku.

Sesungguhnya aku masih ingin bertemu dengannya lagi, setidaknya untuk yang terakhir kali. Sebelum kami benar-benar berteman saja. Aku ingin mengutarakan apa yang kurasakan saat ini dan ingin mendengar apa yang ingin dia sampaikan yang mungkin belum sempat tersampaikan. Aku ingin memeluknya, sekali lagi saja. Namun rasanya tembok yang dia bangun semakin hari semakin tinggi. Aku hanya bisa mengurungkan niatku yang ingin meminta bertemu.

Saat ini Russell dan aku hanya berteman dan kami baik-baik saja. Meskipun sampai sekarang aku belum bisa memposisikan dia sebagai teman dan belum berkomunikasi lagi dengannya. Aku hanya bisa menyapanya dalam draft emailnya. Di sana aku masih bisa memanggilnya “Sayang”, “Baby”, “Bunny” atau panggilan sayang lainnya. Aku hanya bisa menyimpan pesan-pesan yang ingin kusampaikan di sana. Meskipun mungkin Russell tidak pernah tahu dan tidak pernah membacanya. Namun di sanalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bebas menyampaikan rindu yang tak pernah tersampaikan.

Sampai saat ini aku masih dalam proses mengikhlaskan Russell. Entah sampai kapan, entah berapa lama, entah akan sanggup atau tidak tapi ini semua harus kujalani. Menghadapi kenyataan bahwa Russell sekarang hanyalah seorang teman, tidak lebih dari itu.

Rumit memang, ketika kita harus kehilangan seseorang namun bukan karena sudah tidak ada cinta lagi, dan kita harus pergi justru karena sungguh mencintainya.

Aku kembali pada kehidupan keluarga kecilku, tanpa ada lagi kehadiran seseorang yang sangat aku inginkan. Lalu aku harus terlihat seolah semua baik-baik saja di depan keluargaku, sedangkan hatiku sedang hancur, sehancur-hancurnya. Terasa sangat drama memang, apalagi ini terjadi pada orang yang cengeng dan perasa sepertiku.

Beginilah aku, berada lagi di ruangan IGD dengan infus tertancap di tangan kiriku. Mirip dengan apa yang terjadi, tepat setahun yang lalu, saat terpaksa berpisah dengannya dulu. Entah sampai kapan aku harus seperti ini. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.

THE END

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.