LIFE OF A BI 2 (PART 11)

0
391
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Heeey!” Russell membukakan pintu kamar hotel tempatnya menginap, menyapaku dengan nada khasnya. Hari ini, akhirnya kami bertemu lagi setelah hampir tiga bulan lamanya kami tak berjumpa.

Aku memasuki ruangan itu, lalu duduk di tempat tidurnya. Russell menutup pintu, kemudian  berjalan menghampiriku. Dia memelukku. Erat. Hhh, betapa pelukan ini yang sangat aku rindukan. Pelukan yang rasanya seperti rumah, terasa sangat nyaman meskipun dalam keadaan seletih apapun.

Russell yang berdiri di depanku yang masih duduk di tempat tidurnya, tak lepas memelukku. Dia mengelus-elus rambutku, lalu mengecup kepalaku.

“Kangen nggak sama aku?” Russell bertanya tanpa melepaskan pelukannya.

“Enggak,” jawabku sambil tertawa dalam pelukannya.

“Loh yang kemarin-kemarin bilang kangen sambil nangis itu siapa ya?”

“Waduh, siapa ya, Baby?”

“Hahaha, kamu tuh ya,” Russell semakin kencang memelukku, seperti gemas sekali.

“Sayang..,” kataku masih dalam dekapannya.

“Iya?”

“Aku engap.”

Russell tertawa terbahak-bahak sementara aku mengatur nafas karena engap, terlalu kencang dipeluknya.

“Sini-sini, aku kasih nafas buatan,” Russell pun menengadahkan kepalaku, kemudian menciumku. Ah, betapa aku sangat rindu pada wanita ini.

“Eh, Ca. Merem dulu matanya.” Raut muka Russell berubah excited setelah menciumku. Entah ada apa.

“Ngapain sih, Monc?”

“Udah merem dulu.”

Aku memejamkan mataku seperti yang dia minta. Suara langkah kakinya terdengar menjauh. Kemudian terdengar mendekat lagi.

“Udah, buka coba matanya.”

“Ya ampun, Bunny. Kok lucu banget sih?”

Russell tersenyum lebar. Dia memberikan aku seikat mawar merah yang dibungkus sedemikian cantiknya dengan warna ungu, warna kesukaanku.

“Sayang, ini kamu bawa dari Jakarta? Kamu bawanya gimana?” tanyaku padanya sambil kegirangan.

“Iya pesen dari toko bunga deket rumah. Aku masukin aja ke tas. Suka nggak?”

“Suka banget sayang, warna ungu lagi. Makasih banyaaak, Sayang,” aku tersenyum bahagia sambil memeluknya.

Entah berapa orang yang pernah aku pacari, hanya baru Russell orang yang pertama memberikan aku bunga cantik seperti ini. Dengan segala niatnya, yang memesan bunga dari toko bunga di dekat rumahnya sejak jauh hari. Membawanya dari jarak 130 kilometer hanya untukku. Dia pesan sedemikian rupa supaya warnanya sesuai dengan warna kesukaanku. Senang sekali rasanya.

Siang itu, seperti biasa kami diam-diam bertemu. Kami berdua mengambil cuti, tentu di hari kerja. Telepon genggamnya tak henti berdering, telepon dari kantornya yang menanyakan masalah pekerjaan.

Telepon genggamnya berdering lagi. Russell berjalan ke arah sofa di kamar itu, sambil mengambil ponselnya yang terletak di meja sebelah sofa. Russell kemudian mengangkat teleponnya sambil duduk di sofa.

“Oh iya, Pak. Sudah saya kerjakan kemarin kok. File-nya ada di Mbak Jenny, saya tadi sudah WA ke dia supaya diserahkan ke Bapak.”

Aku menghampiri Russell yang sedang berbicara dengan atasannya di telepon. Aku duduk di sampingnya, kemudian memeluknya. Dia masih saja berbicara dengan atasannya itu.

Aku melepaskan pelukanku, lalu menatapnya manja sambil agak manyun. Russell memberi isyarat supaya aku menunggu sebentar. Namun rasanya aku sudah tak bisa menunggu lagi. Aku mulai menciumi pipinya, dia menatapku sebentar, lalu mengelus kepalaku. Aku kemudian memeluknya, bersandar di pelukannya. Lalu kuciumi saja lehernya, perlahan-lahan.

“Gimana, Pak? Maaf.”

Russell sepertinya mulai kehilangan konsentrasi dan berusaha memfokuskan pikirannya, sementara aku masih asyik menciumi lehernya.

“Kamu tuh ya, nakal banget sih. Untung tadi aku masih bisa konsen jawabnya.”

“Ya, lagian kamu. Udah tahu kita susah ketemu, lagi ketemu malah ditelpon mulu sama bosnya. Kan aku sebel, akunya malah dicuekin. Dari tadi angkat telpon terus. Aku kan…,” belum selesai aku bicara Russell sudah membekapku dengan ciumannya.

“Gitu tuh kalau lagi ngomel, satu tarikan nafas ngomongnya panjang lebar nggak kelar-kelar,” Russell menarik mundur bibirnya dan berkata seperti itu padaku. Matanya masih menatap tajam ke arahku.

“Abisnya kesel, aku,” dan untuk kedua kalinya siang itu aku dibekapnya dengan ciumannya. Haha, dia sangat paham bagaimana membuatku berhenti mengomel.

Siang itu kami berdiam saja di hotel, tidak pergi ke mana-mana. Kami benar-benar menghabiskan waktu berdua saja di sana. Melampiaskan kerinduan yang selama beberapa bulan ini terpendam.

Aku dan Russell memang jarang bertemu. Terkadang sebulan, dua bulan, paling lama kami tak bertemu selama tiga bulan lamanya. Kesulitanku bertemu dengannya di saat hari libur membuat kami harus memutar otak untuk mengatur hari bertemu. Itu pun hanya di siang hari. Aku tak pernah bisa menemaninya sampai malam, apalagi menginap.

Aku sering merasa bersalah atas keterbatasan waktuku sehingga kami sulit untuk bertemu. Tahu apa yang Russell katakan? Dia pernah berkata padaku, “Yang penting kualitas bertemunya, bukan kuantitasnya.”

Dia mengatakan bahwa percuma jika kami sering bertemu, namun malah cepat merasa bosan atau jadi tak excited. Mungkin benar yang dia bilang, karena kami jadi sangat memanfaatkan waktu yang kami punya. Kami jadi sangat menghargai waktu kami bersama yang sangat terbatas.

Russell tidak pernah mengeluhkan atas keterbatasanku ini, dia sangat menikmati dan menghargai hubungan yang penuh lika liku ini. Malah aku yang seringkali merasa kurang memberikan waktu untuknya, meskipun dia tak pernah menuntut lebih.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.