LIFE OF A BI 2 (PART 16)

0
343
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Suara itu. Russell. Ya Tuhan, betapa aku merindukan suara itu.

“Monc…”Aair mataku menetes, lagi-lagi aku menangis. Entah sudah berapa liter air mata yang aku keluarkan akhir-akhir ini karena Russell. Rindu. Betapa aku merindukannya. Menginginkan kehadirannya lagi dalam hariku.

“Sayang… Hei, dengerin aku ya. Kamu nggak boleh kayak gini. Kamu harus kuat ya, Sayang. Kuat. Kamu kan cewek paling kuat yang aku kenal. Nggak boleh kamu kayak gini. Makan yang banyak, yang bener. Jangan kebanyakan mikir yang enggak-enggak. Kasian kepala kamu berat itu, sampai kamu kayak gini segala.”

Tuhan, akhirnya aku bisa mendengar lagi suara itu. Meskipun aku tahu dia pun di sana sedang menangis dan berusaha tegar untuk menguatkanku, tapi aku tak bisa menutupi betapa aku rindu segala macam ocehannya. Betapa aku kehilangan dia yang selalu mengingatkan aku tentang segala hal. Betapa aku tidak bisa hidup tanpanya.

Aku hanya terdiam menikmati kebawelannya yang dulu terdengar sangat menyebalkan namun sekarang sangat menenangkan. Tak ada yang ingin aku katakan lagi selain betapa rindunya aku padanya.

“Kangen banget sama kamu, Bawel.”

Aku masih tersedu-sedu sambil menghapus air mataku dengan tangan yang tertancap infusan. Aku sangat bahagia bisa mendengar suaranya lagi.

“Aku juga, kangen banget sama kamu, Jelek. Kamu jangan kayak gini dong, aku udah nggak bisa jagain kamu. Aku bingung harus gimana pengen hubungin kamu dari kemarin,” suaranya terdengar semakin parau, sesekali menarik nafas panjang dan menghapus air matanya. “Kamu sekarang harus bisa jaga diri kamu sendiri ya, Sayang. Jangan bandel. Jangan harus dibawelin dulu baru nurut.”

Siang itu Russell seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia terus menghujaniku dengan kebawelannya yang sepertinya sudah ingin dia sampaikan dari sebelumnya.

Orang itu yang aku butuhkan, yang aku nanti-nanti kehadirannya. Orang yang sangat berpengaruh dalam situasi hatiku belakangan ini.

Kami tidak bisa berkomunikasi seperti dulu lagi, semua karena kejadian kemarin. Aku maupun Russell masih takut kejadian kemarin terulang lagi. Terlebih suamiku sudah tahu bahwa aku mempunyai hubungan spesial dengan seorang perempuan bernama Russell.

Namun Russell masih mencari tahu tentang kabarku yang sedang down, sesekali via direct message di Twitter. Ya, kembali seperti masa awal kami saling mengenal. Hanya berani bertukar pesan via DM. Kami pikir ini jalan yang paling aman. Meskipun kami memang tak kembali pacaran lagi, tapi kami saling memperhatikan satu sama lain. Terlebih Russell yang sangat memperhatikanku karena kondisiku yang sedang buruk.

Komunikasiku dan Russell memang tak seintens dulu, tapi kami masih saling memperhatikan dan   sangat ingin memiliki satu sama lain. Lama kelamaan kami saling tidak bisa menutupi besarnya cinta yang kami tahan untuk tidak tumbuh lagi.

Aku bahkan sempat drop lagi ketika mengetahui Russell sedang dekat dan pergi nonton dengan perempuan lain yang belakangan ini rajin menghiburnya dari kegalauan. Aku tak rela, tak bisa bila dia dimiliki oleh perempuan lain. Entah berlebihan atau apa, tapi pikiran ini kembali menggiringku ke situasi di mana aku harus kembali di rawat di rumah sakit.

Russell saat ini benar-benar memiliki peran penting dalam kesehatanku. Aku tak bisa mengatur pikiranku supaya tidak berlebihan memikirkan Russell. Betapa pun aku mencoba untuk menghindari dan menutupinya, tapi rasanya kepala ini semakin hebat berputar. Bagaimanapun aku mencoba untuk melupakan. Namun semakin aku berusaha melupakan, perut ini terasa mual karena asam lambung yang naik akibat tekanan batin.

“Mimi… Aku semalam udah bicara sama Septia, sama Jenny juga. Semalam aku berfikir, aku mendekati mereka karena aku butuh teman. Butuh orang yang bisa mengisi kekosonganku setelah kamu kemarin tiba-tiba pergi dari aku dan kembali sama keluarga kamu. Tapi sekarang kamu masih ada di sana untuk aku. Aku juga enggak mau bikin kamu kepikiran terus. Kita udah berjuang selama hampir dua tahun ini, aku enggak mau menyerah. Aku lebih memilih untuk kembali berjuang menyayangi kamu, apapun keadaannya.”

Pagi itu saat aku bangun dan membuka Twitter-ku, kudapati sebuah direct message dari Russell. Entah aku harus senang atau sedih, ini cukup membingungkan. Aku sangat senang akhirnya Russell memilih untuk kembali kepadaku walaupun dengan situasi yang kacau seperti ini. Namun ketakutan dalam diriku akan kejadian saat suamiku tahu tentang semuanya membuatku galau. Aku takut semua terulang lagi.

Aku juga tak bisa menjanjikan apapun seperti Septia ataupun Jenny. Aku tidak bisa menemuinya hanya untuk sekedar jalan-jalan atau nonton di akhir pekan seperti yang dilakukan Septia. Atau menemaninya chatting sampai larut malam seperti yang bisa dilakukan oleh Jenny. Aku kalah saing dengan mereka. Aku tak punya apa yang mereka punya. Aku tak bisa seperti mereka, apalagi dalam kondisi setelah semuanya diketahui oleh suamiku. Semua pasti lebih sulit lagi untuk dijalani.
Hhhh, entahlah. Rasanya pikiranku semakin kacau seperti bola kusut. Namun aku memang masih sangat mencintai Russell. Hati ini terlalu berat untuk mengikhlaskan perjuangan cinta kami yang sudah kami lalui selama ini.

Akhirnya aku pasrahkan semuanya, aku juga memilih untuk kembali kepada Russell.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.