Life of a Bi 2 (Part 5)

0
429
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Aku dan Russell menjalani hubungan yang luar biasa dan penuh rasa sayang. Meskipun kami baru bertemu sekali dan belum pernah bertemu lagi sampai saat ini, tapi ini tidak mengurangi kemesraan yang ada di antara kami.

Kami masih berhubungan pada jam kerja. Sesekali saat suamiku pergi ke luar kota, kami bisa bertukar kabar sampai malam. Suatu hal yang hanya sesekali bisa terjadi dalam hubungan kami. Terkadang rasa bersalah karena tak bisa menjadi pacar pada umumnya pun muncul, karena waktuku yang terbatas. Tapi Russell lebih santai dan dewasa daripada Nucky. Dia lebih bisa membawa suasana yang seringkali berlebihan menjadi lebih tenang dan santai. Sejauh ini aku sangat nyaman dengannya.

“Besok bisa ketemu nggak, Baby?”

“Besok kan Sabtu, Monc. Aku nggak bisa ketemu kalau weekend, kan kamu tau.”

“Iya, tahu. Bisa nggak kamu izin sama suami buat pulang agak telat? Makan siang dulu sebentar sama aku ya. Bilangnya mau ke mana gitu, beli apa kek.”

“Hmm. Kamu jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung cuma buat makan siang doang? Sejam dua jam doang dong? Sayang ongkos ih, Baby. Mendingan entar lagi aja ya kita cuti lagi kayak kemarin.”

“Ya nggak apa-apa sebentar juga, nggak masalah. Jadi aku nggak usah cuti kan, soalnya aku besok libur. Ya? Sebentar aja.”

Akhirnya keesokan harinya kami bertemu di salah satu mall di Bandung. Sepulang bekerja, aku pergi menemui Si Bandel yang buang-buang ongkos pulang pergi Bandung-Jakarta hanya untuk makan siang. Ini pertemuan kedua kami.

“Selamat ulang tahun, Baby,” katanya sambil menyerahkan sebuah goodie bag yang di dalamnya ada sebuah kado untukku.

“Ya ampun, Sayang. Hahaha… Jadi kamu minta ketemu hari ini tuh buat ngasih kado doang?”

“Iya, hehehe…”

“Kan aku ulang tahunnya juga besok, Monc.”

“Iya, tahu. Nggak apa-apa. Besok kan Minggu, mana bisa nemuin kamu.”

Aku tersipu malu. “Iiih kamuu,” kataku manja padanya sambil menutup mukanya dengan tangan kananku.

Dia lalu memegang tanganku dan mengarahkannya ke pipinya. Lalu dia mencium telapak tanganku.

Kami baru jalan sekitar tiga bulan dan ini baru pertemuan kedua kami, selebihnya kami hanya berhubungan via chatting dan telepon, itu pun dalam waktu yang terbatas. Namun dengan begitu pun aku sudah merasa sangat disayangi olehnya.

****

Waktu pun bergulir. Tak terasa aku dan Russell sudah menjalani hubungan ini setahun lamanya. Setahun yang kami jalani dengan mulus, meskipun dengan segala keterbatasan waktuku dan pengorbanan serta kesabarannya, kami berhasil melewatinya. Kami pun sering mem-posting momen-momen saat kami bertemu, atau sekedar mention-mention manja.

Beberapa followers-ku dan Russell di Twitter pun tahu betapa kami sangat saling mencintai satu sama lain. Meskipun hanya foto tangan yang sedang bergenggaman, atau foto yang mukanya di tutup oleh sticker, atau video yang tak menunjukkan muka kami, tapi kami senang berbagi momen kebersamaan kami. Tak jarang beberapa followers kami mengomentari dan mengatakan bahwa mereka pun ingin seperti kami.

“Nih, banyak mention masuk. Mau dibalesin dulu?” katanya sambil menyerahkan ponselnya kepadaku. Aku memang membiarkan akun Twitter-ku bisa diakses tanpa harus log-in di ponsel Russell. Beda dengan di ponselku sendiri, aku hanya bisa log-in tanpa aplikasi, itu juga harus dalam private mode.

“Nanti aja, sekarang mau balesin kangennya aku dulu sama kamu,” kataku padanya sambil mendekatkan bibirku padanya.

Here we go again. Memulai lagi apa yang kami baru selesaikan. Beginilah kami kalau sedang bertemu, tak hentinya berpelukan, bermanja-manjaan, bercumbu dan saling melampiaskan rasa rindu.

“Sayang banget sama kamu,” aku membisikkan kata-kata itu tepat di samping telinganya, saat dia sedang asyik menciumi leher sebelah kiriku.

Tangan kiriku memegang bagian belakang kepalanya, sedangkan tangan kananku menggenggam tangan kirinya, seolah aku tak ingin melepaskan genggamannya.

Perlahan-lahan bibirnya mengarah turun ke arah dadaku, tempat kesenangannya. Aku memeluk kepalanya erat, dia semakin berkeringat, aku pun juga.

Aku menarik kepalanya naik setara dengan kepalaku. Kami bertatapan dengan penuh gairah. Aku menciumi bibirnya sambil terengah-engah.

“Boleh ya?” katanya dengan tatapan nakalnya.

Aku pasrah. Dengan dia aku melakukan semua yang tak pernah kulakukan dengan Nucky. Aku sangat percaya padanya. Saking percayanya aku memberikan semuanya, hanya dengan Russell.

***

“Panas nggak, Sayang?”

Aku terkejut dengan suaranya yang tiba-tiba ada tepat di samping telingaku. Aku tak bisa melihatnya mengarah ke telingaku, mataku ditutup dengan bajunya. Kedua tanganku terikat, entah terikat pada apa, aku tak bisa melihat, tak bisa bergerak. Aku hanya bisa merasakan panasnya lelehan lilin yang berjatuhan di dadaku.

“Iya, panas,” aku berusaha menjawab meskipun dengan nafas yang terengah-engah. Bagaimana tidak, tetes demi tetes lelehan panas lilin itu sudah berjatuhan di dadaku. Sementara aku yang terikat, tidak bisa bergerak, hanya bisa menggigit bibirku.

“Nggak usah digigit-gigit gitu sih bibirnya. Sini aku aja yang gigitin,” lagi-lagi suara Russell tiba-tiba ada tepat di samping telingaku, sambil jemarinya mengelus-ngelus bibirku.

Nafasku semakin tak beraturan saat Russell menciumi bibirku, tapi tangannya berada di leherku. Aku tertadah, terdorong oleh dorongan tangannya di leherku, yang sedikit mencekik.

Siang itu kami berada di sebuah hotel, dalam pertemuan ke lima kami. Kami tak memperdulikan apapun itu, yang kami tahu kami sedang melampiaskan kerinduan yang sudah beberapa bulan ini kami pendam. Dengan Russell aku bisa menjadi apapun yang kuinginkan dan dia bisa melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Kami sama-sama bisa menjadi diri kami sendiri, saat kami berdua bersama.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.