Life of a Bi 2 (Part 6)

0
397
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Apa sih kamu senyum-senyum gitu?”

Aku sedang berbaring dengan posisi miring di samping Russell, kami saling berhadapan. Dia menatapku tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya dari mataku. Tatapan yang kulihat penuh rasa kasih sayang. Jemarinya tak henti naik dan turun mengelus ngelus lenganku. Kulihat Russell sedari tadi menatapku yang hanya terbalut selembar kain selimut, dengan tersenyum.

“Udah sih, ih. Kan maluu,” aku menutup mukanya dengan sebelah tanganku. Lagi, dia meraih tanganku dan lalu menciumnya. Kali ini aku yang menatapnya sambil tersenyum. Ah, betapa aku merasa sangat dicintai oleh perempuan ini. Rasanya tak ingin beranjak dari hadapannya. Namun aku harus segera pulang.

Seperti biasa setelah pertemuan dengan Russell, sekitar pukul 18.00 aku harus pulang ke rumah dan meninggalkan Russell sendiri lagi di hotel. Sungguh rasanya aku tak ingin beranjak dari pelukannya, tapi aku harus pulang.

“Ibuuuu. Ibu bawa permen nggak buat Kakak?” Setibanya aku di rumah, Kakak memelukku dan menagih permen.

“Jajan aja ke warung yuk, Kak. Kakak mau jajan apa, Ibu beliin deh.”

Tak lama kemudian suamiku tiba dan aku pun menjalani tugas sebagai seorang istri lagi. Menyiapkan makan malamnya.

Mataku menatap ke arah televisi, tapi hati dan pikiranku entah kemana. Seharian tadi aku bahagia bersama Russell, bermesraan selayaknya wanita yang sedang dimabuk cinta. Aku menjadi seorang Mimi yang apa adanya, yang super manja, yang mood swing-nya tinggi, yang hanya bisa begitu di depan Russell. Tapi saat ini aku berada di rumah, menjalani tugasku sebagai Mimi yang lain. Aku harus menyiapkan ini dan itu, mengurus anak dan suami, harus kuat dan tidak boleh manja.

Terkadang dalam hati ini seperti terjadi perang batin. Aku bingung, mengapa aku bisa menjalani hubungan dengan seorang lelaki, sekaligus menjalani hubungan dengan seorang wanita yang amat aku cintai. Apa bedanya ini dengan selingkuh dari suamiku?

Jika aku boleh memilih dan mengatur perasaanku sendiri, aku akan memilih untuk tidak begini. Aku pernah mencoba untuk berhenti mencintai perempuan dan berniat menjadikan Nucky sebagai perempuan pertama dan terakhirku. Namun yang terjadi malah aku dipertemukan dengan Russell.  Sosok yang membuat aku tak bisa menghindar dari perasaan cinta dengan perempuan.

Aku pun tak tahu kenapa tiba-tiba dulu bisa tertarik dengan perempuan tomboy seperti Nucky dan sekarang dengan Russell? Mengapa perasaan ini tak datang semenjak dulu? Jauh sebelum aku menikah? Mengapa harus sekarang? Saat aku sudah menikah dan mempunyai anak?

Secara hati, aku lebih nyaman dengan perempuan. Tetapi secara status, tentu yang diakui adalah hubungan dengan seorang lelaki. Ah entahlah, aku sering pusing sendiri ketika memikirkan hal ini.

“Bukan salah kamu kok, Ca. Kan kamu juga gak tahu kenapa bisa gini, kan? Terus kamu juga udah pernah menghindar tapi akhirnya gini juga, kan? Ya udah, jalani aja seperti kamu harus bernafas.”

Russell sering menjadi tempatku mengadu, tentang segala hal. Aku beruntung dipertemukan dengan orang yang sesabar itu dalam menghadapiku. Orang yang dengan telaten menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang sering bergumul dalam batinku.

“Kamu kenapa sih mau sama aku, Bunny?”

“Karena kamu itu kayak McD, paket komplet, semua yang aku mau ada di kamu.”

“Tapi aku kan banyak keterbatasan, Bunny. Aku nggak bisa ngelakuin hal-hal yang umumnya dilakukan seorang pacar. Kok kamu nggak pernah protes?”

“Aku kan udah tahu dari awal kalau kamu udah married. Meskipun aku belum pernah menjalani hubungan sama orang yang statusnya married, tapi aku harus terima semua konsekuensinya karena jalan sama kamu.

“Aku nggak akan larang kok kalau kamu mau punya pacar lagi juga.”

“Euuh. Itu lagi. Kan aku udah bilang, aku nggak mau. Aku maunya kamu. Udah itu aja.”

Aku memang membebaskan Russell untuk punya pacar lagi. Pikirku, mungkin dengan Russell punya pacar, akan mengurangi rasa bersalahku padanya. Aku dan dia akan sama-sama punya orang lain. Namun Russell bersikukuh menolaknya.

Rasa bersalah ini tak pernah pergi. Aku merasa tak pernah cukup untuk membahagiakan Russell. Aku merasa aku tak bisa untuk menjadi seorang pasangan yang seharusnya. Bagaimana Russell bisa bahagia bila waktunya denganku saja harus terbagi.

Entahlah, akan jadi bagaimana hubunganku dengannya. Satu sisi aku bingung dengan kebiseksualitasanku ini, tapi di sisi lain aku sangat nyaman dengan Russell. Di sisi lagi lain aku punya keluarga yang harus aku utamakan. Entah apa yang harus aku lakukan.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.