LIFE OF A BI 2 (PART 7)

0
406
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Baby, kamu di mana? Kok enggak ada kabar? Udah sampai kantor?” Russell mengirimkan pesan padaku sejak satu jam yang lalu, namun baru aku balas.

“Aku mau ngajuin gugatan cerai sama suamiku,” kataku kepada Russell pagi itu via WhatsApp.

Biasanya memang setibanya aku di kantor, aku mengabari Russell. Tapi tadi aku langsung bercerita kepada sahabatku, Kia, bahwa aku bertengkar hebat dengan suamiku dan sudah tidak ada komunikasi selama tiga hari.

Kia, Grace dan Vita adalah sahabatku di kantor. Mereka mendukung sekali keputusanku. Mereka tahu betapa perihnya aku berjuang dalam mempertahankan keluargaku. Mereka tahu bagaimana aku banting tulang demi menghidupi anak dan kebutuhanku sebagai seorang wanita. Russell pun sangat mendukung keputusanku.

“Ya udahlah sayang, toh kamu cerai juga nggak ada ngaruhnya sama hidup kamu. Selama ini juga kamu ngehidupin diri kamu sama si Kakak sendiri kan. Udahlah ngapain sih kamu pertahanin suami kayak begitu. Secara materi nggak banyak bantuin kamu, secara sikap juga nggak bisa ngehargain kamu, buat apa?”

Selama satu tahun belakangan ini Russell orang yang paling tahu tentang hubungan pernikahanku. Seringkali Russell marah dan kesal terhadap suamiku atas sikapnya yang tak pernah bisa menghargai aku. Russell selalu menguatkanku, selalu membuat tawa dalam tangisku, selalu membuat senang dalam sedihku. Dia paling mengerti apa yang harus dia lakukan.

Aku juga bercerita kepada kedua orangtuaku tentang masalahku ini. Jelas saja mereka mendukung, apalagi ayahku yang sedari dulu menentang hubunganku dengan suamiku. Dengan semangat ayahku membantu proses gugatan ceraiku padanya.

“Ibu, Ayah ke mana? Kok kita di rumah Eyang terus? Kok nggak pulang ke rumah, Bu?”

Satu hal yang kulupakan adalah adanya anakku yang semakin tumbuh besar dan pintar berbicara. Anakku menanyakan keberadaan ayahnya. Baru saja dia menanyakan, aku sudah menangis dan kepikiran. Bagaimana nanti? Bagaimana kalau dia tahu bahwa ayah dan ibunya akan bercerai?

Aku tak akan bisa memblok komunikasi dengan suamiku nantinya, aku harus tetap menjalin komunikasi yang baik dengannya untuk anak kami. Tapi bagaimana bisa? Apakah aku sanggup?

Bagaimana nantinya jika dia menikah lagi? Dan punya anak lagi dari istri yang baru? Bagaimana dengan Kakak? Perasaannya Kakak akan seperti apa?

Aku tak sanggup membayangkan bagaimana Kakak akan tumbuh dengan kondisi orangtua yang bercerai. Bagaimana Kakak nanti jika ayahnya atau aku sudah punya pasangan masing-masing lagi? Seketika aku menjadi bimbang lagi dengan keputusanku yang sudah mantap dan sudah mengajukan gugatan cerai.

“Angkat teleponnya, Bu. Ayah kangen pengen telepon Kakak.”

Suamiku mengirim pesan padaku setelah 5 kali menelepon tapi tak kuangkat. Akhirnya aku angkat dan kuberikan teleponnya kepada Kakak.

“Ayah pindah kerja ke luar kota ya, Bu? Pantesan nggak pulang-pulang.”

“Ayah memang tadi bilang apa, Nak?”

“Iya, kan Kakak tanya, Ayah ke mana aja kok Kakak nggak dijemput terus di rumah Eyang. Kata Ayah, Ayah pergi ke luar kota, kerjanya pindah.”

Kakak menceritakan dengan polos dan suara cadelnya. Air mataku langsung tumpah seketika mendengarnya. Maafkan Ibu, Nak. Ayahmu jadi harus berbohong tentang keadaan kita.

“Ibu kenapa nangis? Sedih yah ayahnya pindah?”

Tak sanggup lagi rasanya. Aku berlari ke kamar dan mengunci diri di sana. Sudah benarkah keputusan yang kuambil? Mungkin sangat benar untukku, tapi untuk anakku?

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.