LIFE OF A BI 2 (PART 8)

0
361
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Pokoknya nanti kalau udah kelar semua urusannya, kita liburan ya. Ajak Kakak juga. Aku pengen ngajak kalian senang-senang pokoknya.”

Malam itu, seperti biasa Kakak sudah tidur. Waktunya aku untuk pacaran dengan Russell. Dia mengirimkan pesannya padaku. Aku dan Russell sudah mengatur rencana, bahkan sudah memilih tempat apa saja yang akan kami kunjungi nanti.

“Tapi kalau beres aku mau nyamperin kamu dulu di Jakarta, kan aku belum pernah ke sana. Kamu terus yang ke Bandung.”

“Iya, boleh. Terus nanti bulan depannya kita ke Bali ya? Bawa Kakak, jangan lupa.”

Aku maupun Russell sangat excited menghadapi perceraianku, dia mendukung sepenuhnya karena apa yang selama ini membuatku sedih akan pergi. Juga bila aku cerai nanti, aku akan seutuhnya menjadi miliknya.

Malam hari keesokan harinya, tak kuduga suamiku datang menemui kedua orang tuaku. Membicarakan permasalahan kami dari sudut pandangnya. Saat dia bicara dengan orangtuaku, si Kakak terbangun dari tidurnya dan berlari ke arah ayahnya.

“Ayaaah!” anakku langsung turun dari tempat tidurnya dan berlari ke arah ayahnya. Mungkin dia mendengar suara ayahnya dari dalam kamar.

“Ayah udah pulang? Ayah enggak ke luar kota lagi, kan?”

“Ini juga mau pergi lagi, Kak. Kakak di sini aja dulu ya.”

“Enggak pulang lagi dong, Yah? Kirain Ayah mau jemput Kakak.”

“Enggak, Kak. Ayah ke sini mau pamitan sama Kakak, besok Ayah mah pergi jauuuh sekali. Pulangnya lama. Nggak tahu pulang, nggak tahu enggak bakal pulang lagi. Kakak main dulu sama Ibu ya, Ayah mau bicara dulu sama Eyang.”

Aku menghapus air mataku. Ini berat buatku. Melihat kepolosan buah hatiku, yang tak tahu tentang apa yang sedang terjadi. Aku berjalan ke arah anakku dan menggendongnya. Tapi dia menolak, dia bersikeras memeluk ayahnya.

Kulihat ke arah suamiku, matanya juga basah. Baru kali pertama kulihat lelaki itu menangis. Dia menghapus air matanya, dan membujuk supaya Kakak mau pindah ke ruangan lain denganku.

Aku rasa aku tak akan sanggup bila ini harus terjadi. Aku tak kuasa menahan tangis setiap anakku menanyakan ayahnya. Ibuku pun menemuiku setelah suamiku pulang.

“Neng, dipikirin lagi. Sudah, yang sudah mah sudah. Mami dulu juga nggak suka sama suami kamu tuh, tapi ya coba lihat anakmu. Kasian dia. Lihat kan tadi kayak apa? Sanggup kamu lihat anakmu begitu, Neng? Lihat juga suami kamu sekarang, bagaimana dia mau berusaha mempertahankan. Istikharah, Neng. Minta jawaban sama Gusti.”

Apa yang ibuku bilang sepenuhnya benar. Kasihan anakku. Aku tak sanggup memisahkannya dari ayah kandungnya sendiri. Bagaimanapun seorang anak akan butuh kehadiran sosok kedua orangtuanya, baik itu ibu maupun ayahnya.

Ah, aku bingung. Melihat kondisi ini, aku cenderung membatalkan gugatan ceraiku. Namun aku terlanjur janji pada Russell untuk berlibur dan menemuinya di Jakarta. Jika aku membatalkan gugatan dan kembali pada suamiku, maka akan sulit untukku menghampirinya di kota asalnya. Aku ingin memenuhi janjiku dan menemui Russell di Jakarta selagi proses masih berjalan. Setidaknya apabila aku dan Russell tidak jadi ke Bali, aku bisa menemuinya ke sana. Setidaknya aku bisa menemaninya seharian penuh.

“Aku udah sampai, Sayang.”

Akhirnya aku bisa juga sampai di sini, di kota asal pacarku.

Aku selalu berusaha untuk tidak mencampuri urusanku dengan suamiku, pada Russell, begitu juga sebaliknya. Aku tak ingin Russell tahu ketika aku sedang bad mood karena suamiku. Sebisa mungkin aku akan menutupinya. Meski seringkali aku gagal dan akhirnya menceritakan semuanya pada Russell. Russell memang paling tahu suasana hatiku, paling mengerti harus memperlakukan aku seperti apa.

Bukan hal mudah memang menjalani ini, karena aku seperti menjadi dua orang yang berbeda ketika aku dengan Russell dan suamiku. Terkadang dalam hatiku bergejolak perasaan yang tak menentu. Tak jarang aku membentak suamiku karena siang harinya sedang berselisih paham dengan Russell, atau sebaliknya.

Hari ini, meskipun masih dalam kegalauan kelanjutan proses gugatan perceraian, aku menemui Russell dengan senang hati. Aku ingin melakukan hal yang biasanya aku tak bisa lakukan, selagi ada kesempatan.

*to be continued

(Amytha Monica, @amythamonicaa)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Previous articleLIFE OF A BI 2 (PART 7)
Next articleTentang Rasa
SHARE