Love and Acceptance (Chapter 1)

0
299
views
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Suara musik menggema di telinga, tapi aku tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Krisan yang terus terngiang di kepalaku. “Nanti pulang sama gue aja ya, Al. Gue dijemput Ardi kok.” Entah harus aku terima atau tolak ajakan itu.

“MC standby 20 second lagi ya.” Suara dari show director lewat clear com yang kupakai menyadarkanku dari lamunan. “Alya, MC standby 10 second lagi.”

“Siap,” jawabku sekenanya melalui clear com.

“Krisan, standby untuk closing ya,” ujarku.

“Iya, Alya sayang. Apa sih yang nggak buat lo,” jawab Krisan sambil mengerlingkan mata.

Terkadang aku bersumpah, Krisan sebenarnya tahu kalau aku menyimpan rasa untuknya.

“Terima kasih kepada rekan-rekan undangan yang telah datang di acara launching ini. Saya Krisan Atmadiradja undur diri dan sampai bertemu di kesempatan lainnya. Selamat malam.” Krisan menutup event dengan anggun. Lagu ‘Alone’ dari Marshmello diputar sebagai lagu penutup dan diikuti dengan tembakan confetti. Selesai sudah tugasku hari ini.

Mataku tetap terpaku kepada Krisan yang masih berdiri di atas panggung sambil menebar senyum manisnya. Sampai sebuah tepukan di bahuku membawaku kembali ke dunia nyata.

Good job, Alya. It’s a wrap!”

Shit. Jangan sampai aku tertangkap sedang memandangi Krisan lekat-lekat, apalagi oleh show director-ku ini.

Thanks, Mbak. Gue beres-beres dulu ya,” jawabku sambil ngeloyor pergi, menjauh dari dia.

 

I love my job. I really do. Menjadi seorang show manager adalah impianku dari kuliah dan aku senang bisa bergabung bersama tim show management bernama Show.Inc. Bergabung dengan sebuah show management adalah pekerjaan yang sangat aku idamkan, apalagi kalau bisa sering-sering bekerja dengan Krisan, sahabatku sejak awal kuliah hingga saat ini.

Krisan mengawali karirnya sebagai seorang model dan sekarang ia mulai mengasah kemampuannya menjadi MC untuk acara formal dan informal. Mulai dari seminar, fashion show, sampai launching product seperti event yang baru saja kami selesaikan. Awalnya menyenangkan, karena aku bisa sering bertemu dengannya. Setelah lulus kuliah waktu pertemuan kami semakin sedikit, bahkan sekadar ngopi bareng pun jarang.

Namun, belakangan ini aku semakin sulit menyembunyikan perasaanku kepadanya. Perasaan yang aku rasakan sejak pertama kali berkenalan dengannya di acara inagurasi mahasiswa baru. Perasaan yang semakin dalam ketika aku dan Krisan memutuskan untuk kost bersama. Perasaan yang harus kukubur dalam-dalam saat tahu Krisan jadian dengan senior di kampus.

Kedekatan dan keakrabanku dengan Krisan sejak kuliah, membuat teman-teman menjuluki kami dynamic duo dan ya, event demi event kami jalankan bersama. Aku sebagai show manager dan Krisan menjadi MC. Krisan seperti sudah bisa membaca pikiranku, sehingga aku tidak perlu repot-repot men-direct dia untuk menjalankan acara.

“Woy, Al. Udah kelar belum? Jadi pulang bareng gue kan?” Krisan berteriak dari depan pintu ballroom Hotel Shangrila, tempat event berlangsung.

Duh. Kenapa juga mobilku harus masuk bengkel sekarang? Harusnya tadi aku bilang, kalau aku akan pulang naik transportasi online. Aku enggan harus semobil dengan Krisan dan pacarnya. Hhh….

“Iya, sebentar lagi kelar kok. Tunggu ya, gue pamitan dulu sama yang lain.” Aku menghampiri Mbak Tia, show director-ku dan tim yang lain untuk berpamitan.

“Al, lo bisa balik bareng gue kok kalau lo nggak mau balik sama Krisan,” bisik Mbak Tia saat aku menghampirinya.

“Hah? Eh… Nggak kok, Mbak. Aku balik sama Krisan aja.” Dari mana Mbak Tia tahu? Apa aku terbaca sejelas itu? Kalau ia saja bisa tahu, apalagi Krisan? Aku menarik napas dalam-dalam dan segera menghampiri Krisan yang sudah menunggu di depan ballroom. “Yuk pulang. Ardi udah datang?”

“Udah, kita makan dulu ya. Gue tiba-tiba kepengen makan sop iga. Sini gue bawain tas lo. Lo pasti capek kan?” Aku hanya tersenyum kecut. Senyum perpaduan antara capek, ngarep, dan juga mules, karena harus semobil bersama Krisan dan pacarnya.

Duh, Krisan, kenapa lo nggak jadi pacar gue aja sih?

Kami berjalan menuju lobby di mana mobil Ardi sudah menunggu. Aku langsung membuka pintu belakang dan melemparkan barang-barangku di jok sambil menyapa Ardi alakadarnya.

“Halo, Alya. Gimana eventnya? Sukses?”

“Sukses dong, siapa dulu MC-nya,” jawabku berusaha menyembunyikan ketidak sukaanku kepada Ardi.

Ardi sebenarnya baik dan karena sangat mencintai Krisan, ia selalu berusaha mendekatkan diri kepadaku. Bukan, bukan ada maksud apa-apa, tapi karena aku sahabat terdekat Krisan. Krisan pernah bertanya kepadaku, kenapa aku begitu dingin kepada Ardi. Ia bahkan pernah menyangka kalau aku sebenarnya menyukai Ardi. Aku terbahak-bahak mendengar pertanyaannya, karena sebenarnya yang aku sukai adalah Krisan, bukan Ardi.

Perjalanan dari Hotel Shangrila menuju rumah Krisan terasa lama sekali. Aku yang memang sudah lelah berusaha memejamkan mata dan berharap saat aku terbangun, aku sudah sampai di rumah Krisan. Perjalanan pulang tidak semudah yang aku kira. Tubuhku lelah dan mataku terpejam, tetapi telingaku masih amat sadar.

“Gimana acaranya hari ini, Sayang?” Ardi membuka obrolan.

“Sukses, Yang,” jawab Krisan halus.

Aku membuka mata dan melihat Krisan sedang bersandar di bahu Ardi. Alunan lagu jazz terdengar di telingaku. Ini kan CD yang kubelikan untuk Krisan. Ah, kalau tahu akan dipakai untuk pacaran sama Ardi, pasti tidak aku berikan. Aku merutuk dalam hati dan mencoba memejamkan mata lagi, berharap ketika terbangun hari sudah pagi. Entah berapa lama aku terlelap dan akhirnya terbangun saat Krisan menepuk pundakku.

“Al, udah nyampe. Turun yuk”

“Lho, nggak jadi makan sop iga?”

“Nggak, gue nggak tega ngebangunin lo, jadi tadi gue minta langsung pulang aja sama Ardi.”

Aku turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Ardi, lalu masuk menuju kamar Krisan. Ah, paling tidak malam ini aku bisa tidur di pelukannya.

-citsatig

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.